Archive for the ‘Materi’ Category

51 keutamaan dzikir

Posted: 13 Mei 2016 in Ibadah, Uncategorized

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Berikut adalah keutamaan-keutamaan dzikir yang disarikan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya Al Wabilush Shoyyib. Moga bisa menjadi penyemangat bagi kita untuk menjaga lisan ini untuk terus berdzikir, mengingat Allah daripada melakukan hal yang tiada guna.

(1) mengusir setan.

(2) mendatangkan ridho Ar Rahman.

(3) menghilangkan gelisah dan hati yang gundah gulana.

(4) hati menjadi gembira dan lapang.

(5) menguatkan hati dan badan.

(6) menerangi hati dan wajah menjadi bersinar.

(7) mendatangkan rizki.

(8) orang yang berdzikir akan merasakan manisnya iman dan keceriaan.

(9) mendatangkan cinta Ar Rahman yang merupakan ruh Islam.

(10) mendekatkan diri pada Allah sehingga memasukkannya pada golongan orang yang berbuat ihsan yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihatnya.

(11) mendatangkan inabah, yaitu kembali pada Allah ‘azza wa jalla. Semakin seseorang kembali pada Allah dengan banyak berdzikir pada-Nya, maka hatinya pun akan kembali pada Allah dalam setiap keadaan.

(12) seseorang akan semakin dekat  pada Allah sesuai dengan kadar dzikirnya pada Alalh ‘azza wa jalla. Semakin ia lalai dari dzikir, ia pun akan semakin jauh dari-Nya.

(13) semakin bertambah ma’rifah (mengenal Allah). Semakin banyak dzikir, semakin bertambah ma’rifah seseorang pada Allah.

(14) mendatangkan rasa takut pada Rabb ‘azza wa jalla dan semakin menundukkan diri pada-Nya. Sedangkan orang yang lalai dari dzikir, akan semakin terhalangi dari rasa takut pada Allah.

(15) meraih apa yang Allah sebut dalam ayat,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

Maka ingatlah pada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian.” (QS. Al Baqarah: 152). Seandainya tidak ada keutamaan dzikir selain yang disebutkan dalam ayat ini, maka sudahlah cukup keutamaan yang disebut.

(16) hati akan semakin hidup. Ibnul Qayyim pernah mendengar gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

الذكر للقلب مثل الماء للسمك فكيف يكون حال السمك إذا فارق الماء ؟

Dzikir pada hati semisal air yang dibutuhkan ikan. Lihatlah apa yang terjadi jika ikan tersebut lepas dari air?”

(17) hati dan ruh semakin kuat. Jika seseorang melupakan dzikir maka kondisinya sebagaimana badan yang hilang kekuatan. Ibnul Qayyimrahimahullah menceritakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sesekali pernah shalat Shubuh dan beliau duduk berdzikir pada Allah Ta’ala sampai beranjak siang. Setelah itu beliau berpaling padaku dan berkata, ‘Ini adalah kebiasaanku di pagi hari. Jika aku tidak berdzikir seperti ini, hilanglah kekuatanku’ –atau perkataan beliau yang semisal ini-.

(18) dzikir menjadikan hati semakin kilap yang sebelumnya berkarat. Karatnya hati adalah disebabkan karena lalai dari dzikir pada Allah. Sedangkan kilapnya hati adalah dzikir, taubat dan istighfar.

(19) menghapus dosa karena dzikir adalah kebaikan terbesar dan kebaikan akan menghapus kejelekan.

(20) menghilangkan kerisauan. Kerisauan ini dapat dihilangkan dengan dzikir pada Allah.

(21) ketika seorang hamba rajin mengingat Allah, maka Allah akan mengingat dirinya di saat ia butuh.

(22) jika seseorang mengenal Allah dalam  keadaan lapang, Allah akan mengenalnya dalam keadaan sempit.

(23) menyelematkan seseorang dari adzab neraka.

(24) dzikir menyebabkan turunnya sakinah (ketenangan), naungan rahmat, dan dikelilingi oleh malaikat.

(25) dzikir menyebabkan lisan semakin sibuk sehingga terhindar dari ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dusta, perbuatan keji dan batil.

(26) majelis dzikir adalah majelis para malaikat dan majelis orang yang lalai dari dzikir adalah majelis setan.

(27) orang yang berzikir begitu bahagia, begitu pula ia akan membahagiakan orang-orang di sekitarnya.

(28) akan memberikan rasa aman bagi seorang hamba dari kerugian di hari kiamat.

(29) karena tangisan orang yang berdzikir, maka Allah akan memberikan naungan ‘Arsy padanya di hari kiamat yang amat panas.

(30) sibuknya seseorang pada dzikir adalah sebab Allah memberi untuknya lebih dari yang diberikan pada peminta-minta.

(31) dzikir adalah ibadah yang paling ringan, namun ibadah tersebut amat mulia.

(32) dzikir adalah tanaman surga.

(33) pemberian dan keutamaan yang diberikan pada orang yang berdzikir, tidak diberikan pada amalan lainnya.

(34) senantiasa berdzikir pada Allah menyebabkan seseorang tidak mungkin melupakan-Nya. Orang yang melupakan Allah adalah sebab sengsara dirinya dalam kehidupannya dan di hari ia dikembalikan. Seseorang yang melupakan Allah menyebabkan ia melupakan dirinya dan maslahat untuk dirinya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hasyr: 19)

(35) dzikir adalah cahaya bagi pemiliknya di dunia, kubur, dan hari berbangkit.

(36) dzikir adalah ro’sul umuur (inti segala perkara). Siapa yang dibukakan baginya kemudahan dzikir, maka ia akan memperoleh berbagai kebaikan. Siapa yang luput dari pintu ini, maka luputlah ia dari berbagai kebaikan.

(37) dzikir akan memperingatkan hati yang tertidur lelap. Hati bisa jadi sadar dengan dzikir.

(38) orang yang berdzikir akan semakin dekat dengan Allah dan bersama dengan-Nya. Kebersamaan di sini adalah dengan kebersamaan yang khusus, bukan hanya sekedar Allah itu bersama dalam arti mengetahui atau meliputi. Namun kebersamaan ini menjadikan lebih dekat, mendapatkan perwalian, cinta, pertolongan dan taufik Allah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An Nahl: 128)

وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 249)

وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al ‘Ankabut: 69)

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS. At Taubah: 40)

(39) dzikir itu dapat menyamai seseorang yang memerdekakan budak, menafkahkan harta, dan menunggang kuda di jalan Allah, serta juga dapat menyamai seseorang yang berperang dengan pedang di jalan Allah.

Sebagaimana terdapat dalam hadits,

مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ ، وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ . فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ

Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku, wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syain qodiir dalam sehari sebanyak 100 kali, maka itu seperti memerdekakan 10 budak.[1]

(40) dzikir adalah inti dari bersyukur. Tidaklah bersyukur pada Allah Ta’ala orang yang enggan berdzikir. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada Mu’adz,

« يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ ». فَقَالَ « أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ »

Wahai Mu’adz, demi Allah, sungguh aku mencintaimu. Demi Allah, aku mencintaimu.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku menasehatkan kepadamu –wahai Mu’adz-, janganlah engkau tinggalkan di setiap akhir shalat bacaan ‘Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik’ (Ya Allah tolonglah aku untuk berdzikir dan bersyukur serta beribadah yang baik pada-Mu).[2] Dalam hadits ini digabungkan antara dzikir dan syukur. Begitu pula Allah Ta’ala menggabungkan antara keduanya dalam firman AllahTa’ala,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah: 152). Hal ini menunjukkan bahwa penggabungan dzikir dan syukur merupakan jalan untuk meraih bahagia dan keberuntungan.

(41) makhluk yang paling mulia adalah yang bertakwa yang lisannya selalu basah dengan dzikir pada Allah. Orang seperti inilah yang menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. Ia pun menjadikan dzikir sebagai syi’arnya.

(42) hati itu ada yang keras dan meleburnya dengan berdzikir pada Allah. Oleh karena itu, siapa yang ingin hatinya yang keras itu sembuh, maka berdzikirlah pada Allah.

Ada yang berkata kepada Al Hasan, “Wahai Abu Sa’id, aku mengadukan padamu akan kerasnya hatiku.” Al Hasan berkata, “Lembutkanlah dengan dzikir pada Allah.”

Karena hati  ketika semakin lalai, maka semakin keras hati tersebut. Jika seseorang berdzikir pada Allah, lelehlah kekerasan hati tersebut sebagaimana timah itu meleleh dengan api. Maka kerasnya hati akan meleleh semisal itu, yaitu dengan dzikir pada Allah ‘azza wa jalla.

(43) dzikir adalah obat hati sedangkan lalai dari dzikir adalah penyakit hati. Obat hati yang sakit adalah dengan berdzikir pada Allah.

Mak-huul, seorang tabi’in, berkata, “Dzikir kepada Allah adalah obat (bagi hati). Sedangkan sibuk membicarakan (‘aib) manusia, itu adalah penyakit.”

(44) tidak ada sesuatu yang membuat seseorang mudah meraih nikmat Allah dan selamat dari murka-Nya selain dzikir pada Allah. Jadi dzikir adalah sebab datangnya dan tertolaknya murka Allah. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7). Dzikir adalah inti syukur sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Sedangkan syukur akan mendatangkan nikmat dan semakin bersyukur akan membuat nikmat semakin bertambah.

(45) dzikir menyebabkan datangnya shalawat Allah dan malaikatnya bagi orang yang berdzikir. Dan siapa saja yang mendapat shalawat (pujian) Allah dan malaikat, sungguh ia telah mendapatkan keuntungan yang besar. Allah Ta’alaberfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (42) هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا (43)

Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al Ahzab: 41-43)

(46) dzikir kepada Allah adalah pertolongan besar agar seseorang mudah melakukan ketaatan. Karena Allah-lah yang menjadikan hamba mencintai amalan taat tersebut, Dia-lah yang memudahkannya dan menjadikan terasa nikmat melakukannya. Begitu pula Allah yang menjadikan amalan tersebut sebagai penyejuk mata, terasa nikmat dan ada rasa gembira. Orang yang rajin berdzikir tidak akan mendapati kesulitan dan rasa berat ketika melakukan amalan taat tersebut, berbeda halnya dengan orang yang lalai dari dzikir. Demikianlah banyak bukti yang menjadi saksi akan hal ini.

(47) dzikir pada Allah akan menjadikan kesulitan itu menjadi mudah, suatu yang terasa jadi beban berat akan menjadi ringan, kesulitan pun akan mendapatkan jalan keluar. Dzikir pada Allah benar-benar mendatangkan kelapangan setelah sebelumnya tertimpa kesulitan.

(48) dzikir pada Allah akan menghilangkan rasa takut yang ada pada jiwa dan ketenangan akan selalu diraih. Sedangkan orang yang lalai dari dzikir akan selalu merasa takut dan tidak pernah merasakan rasa aman.

(49) dzikir akan memberikan seseorang kekuatan sampai-sampai ia bisa melakukan hal yang menakjubkan. Itulah karena disertai dengan dzikir. Contohnya adalah Ibnu Taimiyah yang sangat menakjubkan dalam perkataan, tulisannya, dan kekuatannya. Tulisan Ibnu Taimiyah yang ia susun sehari sama halnya dengan seseorang yang menulis dengan menyalin tulisan selama seminggu atau lebih. Begitu pula di medan peperangan, beliau terkenal sangat kuat. Inilah suatu hal yang menakjubkan dari orang yang rajin berdzikir.

(50) orang yang senantiasa berdzikir ketika berada di jalan, di rumah, di lahan yang hijau, ketika safar, atau di berbagai tempat, itu akan membuatnya mendapatkan banyak saksi di hari kiamat. Karena tempat-tempat tadi, gunung dan tanah, akan menjadi saksi bagi seseorang di hari kiamat. Kita dapat melihat hal ini pada firman Allah Ta’ala,

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2) وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا (3) يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (4) بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا (5)

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.” (QS. Az Zalzalah: 1-5)

(51) jika seseorang menyibukkan diri dengan dzikir, maka ia akan terlalaikan dari perkataan yang batil seperti ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), perkataan sia-sia, memuji-muji manusia, dan mencela manusia. Karena lisan sama sekali tidak bisa diam. Lisan boleh jadi adalah lisan yang rajin berdzikir dan boleh jadi adalah lisan yang lalai. Kondisi lisan adalah salah satu di antara dua kondisi tadi. Ingatlah bahwa jiwa jika tidak tersibukkan dengan kebenaran, maka pasti akan tersibukkan dengan hal yang sia-sia.[3]

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

PRIORITAS PEMAHAMAN ATAS HAFALAN

Posted: 1 Juni 2012 in Materi

ADA baiknya saya mengingatkan di sini –ketika kita  berbicara tentang  prioritas  pengetahuan  atas  amal perbuatan– kepada sesuatu yang penting, yang juga termasuk di dalam perbincangan kita  mengenai  fiqh prioritas. Yaitu prioritas pemahaman atas penguasaan yang sekadar hafalan. Ilmu yang hakiki  ialah  ilmu yang betul-betul kita fahami dan kita cerna dalam otak kita.

Itulah  yang sebenarnya diinginkan oleh Islam dari kita; yaitu pemahaman terhadap ajaran agama,  dan  bukan  sekadar  belajar agama; sebagaimana dijelaskan di dalam firman Allah SWT:

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (at-Taubah: 122)

Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan,

“Barangsiapa dihendaki Allah mendapatkan kebaikan, maka Dia akan memberinya pemahaman tentang agamanya.”15

Fiqh merupakan sesuatu yang lebih  dalam  dan  lebih  spesifik dibandingkan  dengan  ilmu  pengetahuan. Sesungguhnya fiqh itu mencakup pemahaman, dan juga  pemahaman  yang  mendalam.  Oleh karena  itu, Allah SWT menafikannya dari orang-orang kafir dan orang-orang  munafik,  ketika  Dia  memberikan  sifat   kepada mereka:

“…  disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.” (al-Anfal 65)

Dalam hadits Abu Hurairah r.a. yang diriwayatkan  oleh  Muslim dikatakan,

“Manusia itu bagaikan barang tambang, seperti layaknya tambang emas dan perak. Orang yang baik pada zaman jahiliyah adalah orang yang baik pada zaman Islam apabila mereka memiliki pemahaman yang baik.”

Dalam hadis Abu Musa yang dimuat di dalam Shahihain dikatakan,

“Perumpamaan Allah mengutusku dengan petunjuk dan ilmu pengetahuan adalah seperti hujan lebat yang menyirami tanah. Di antara tanah itu ada yang gembur yang bisa menerima air, kemudian menumbahkan rerumputan yang lebat. Kemudian ada pula tanah cadas yang dapat menghimpun air sehingga airnya dapat dimanfantkan oleh manusia. Mereka minum, memberi minum kepada binatang ternak, dan bercocok tanam dengannya. Tetapi ada juga tanah yang sangat cadas dan tidak dapat menerima air, tidak dapat menumbuhkan tanaman. Begitulah perumpamaan orang yang memahami ajaran agama Allah dan memanfaatkan ajaran yang aku diutus untuk menyampaikannya. Dia memahami kemudian mengajarkannya. Dan begitulah orang yang tidak mau mengangkat kepalanya dan tidak mau menerima petunjuk Allah yang aku diutus untuk menyampaikannya.’16

Hadits ini mengumpamakan apa yang  dibawa  oleh  Nabi,  berupa petunjuk   dan   ilmu  pengetahuan,  laksana  air  hujan  yang menghidupkan  tanah  yang  mati,  bagaikan  ilmu  agama   yang menghidupkan  hati yang telah mati. Orang yang menerima ajaran agama itupun bermacam-macam, seperti beraneka  ragamnya  tanah yang  menerima  air  hujan. Tingkatan orang yang paling tinggi ialah orang yang memahami ilmu  pengetahuan,  memanfaatkannya, kemudian  mengajarkannya.  Ia  bagaikan  tanah  yang subur dan bersih, yang airnya dapat diminum, serta menumbuhkan  berbagai macam  tanaman  di  atasnya. Tingkatan yang berada di bawahnya ialah orang yang mempunyai hati yang dapat  menyimpan,  tetapi dia tidak mempunyai pemahaman yang baik dan mendalam pada akal pikiran mereka, sehingga dia dapat  membuat  kesimpulan  hukum yang  dapat  dimanfaatkan  oleh  orang  lain…  Mereka adalah orang-orang  yang  hafal,  dan  bila  ada  orang  yang  datang memerlukan  ilmu  pengetahuan yang dimilikinya, maka dia dapat memberikan manfaat hafalan itu kepadanya. Orang-orang  seperti inilah   yang  dapat  dimanfaatkan  ilmu  pengetahuan  mereka. Kelompok orang seperti ini  diumpamakan  seperti  tanah  cadas yang  mampu  menampung air, sehingga datang orang yang meminum airnya, atau memberi minum  kepada  binatang  ternaknya,  atau menyirami  tanaman  mereka.  Itulah  yang  diisyaratkan  dalam sebuah hadits yang sangat terkenal:

“Semoga Allah memberi kebaikan kepada orang yang mendengarkan perkataanku kemudian dia menghafalnya, lalu menyampaikannya sebagaimana yang dia dengarkan. Bisa jadi orang yang membawa fiqh bukanlah seorang faqih, dan bisa jadi orang yang membawa fiqh ini membawanya kepada orang yang lebih faqih daripada dirinya.”17

Sedangkan  kelompok  ketiga  ialah  orang-orang   yang   tidak memiliki  pemahaman dan juga tidak ahli menghafal, tidak punya ilmu dan tidak punya amal. Mereka bagaikan  tanah  cadas  yang tidak  dapat  menampung  air dan tidak dapat dimanfaatkan oleh orang lain.18

Hadits tersebut menunjukkan bahwa manusia yang  paling  tinggi derajatnya  di sisi Allah dan rasul-Nya ialah orang-orang yang memahami dan mengerti, disusul dengan  orang  yang  menghafal. Disitulah  letak  kelebihan  orang  yang faham atas orang yang menghafal; dan letak kelebihan fuqaha atas para huffazh. Dalam qurun  yang  terbaik bagi manusia –yaitu tiga abad pertama di dalam Islam– kedudukan dan kepeloporan berada di tangan  para faqih,  sedangkan  pada  masa-masa  kemunduran,  kedudukan dan kepeloporan itu ada para hafizh.

Saya tidak hendak mengatakan bahwa hafalan sama  sekali  tidak mempunyai  arti  dan  nilai,  serta ingatan yang dimiliki oleh manusia itu tidak ada gunanya. Tidak, ini  tidak  benar.  Saya hanya ingin mengatakan: “Sesungguhnya hafalan hanyalah sebagai gudang data dan ilmu pengetahuan; untuk kemudian dimanfaatkan. Menghafal bukanlah tujuan itu sendiri, tetapi ia adalah sarana untuk mencapai yang lainnya. Kesalahan yang  banyak  dilakukan oleh kaum Muslimin ialah perhatian mereka kepada hafalan lebih tinggi daripada pemahaman, dan memberikan  hak  dan  kemampuan yang lebih besar kepadanya.

Oleh  karena  itu,  kita  menemukan  penghormatan  yang sangat berlebihan diberikan kepada para  penghafal  al-Qur’an,  tanpa mengurangi  rasa  hormat saya kepada mereka. Sehingga berbagai perlombaan untuk itu seringkali dilakukan di berbagai  negara, yang  menjanjikan  hadiah  yang  sangat besar nilainya; hingga mencapai puluhan ribu dolar untuk seorang pemenang. Ini  perlu kita hargai dan kita syukuri.

Akan  tetapi,  sangat  disayangkan  hadiah  seperti  itu, atau setengahnya,  bahkan  seperempatnya,  tidak  diberikan  kepada orang-orang yang mencapai prestasi gemilang di dalam ilmu-ilmu syariah yang lainnya; seperti ilmu tafsir, ilmu hadits,  fiqh, usul  fiqh,  aqidah, dan da’wah; padahal keperluan umat kepada orang-orang seperti ini lebih banyak, di samping  itu  manfaat yang diperoleh dari mereka juga lebih besar.

Di   antara   persoalan  yang  sangat  memalukan  dalam  dunia pendidikan  di  negara  kita  ialah   bahwa   pendidikan   itu kebanyakan  didasarkan  kepada  hafalan  dan “kebisuan”, serta tidak didasarkan kepada pemahaman dan pencernaan. Oleh  karena itu,  kebanyakan  pelajar  lupa  apa  yang telah dipelajarinya setelah dia menempuh ujian. Kalau  apa  yang  mereka  pelajari didasarkan  atas pemahaman dan contoh yang nyata, maka hal itu akan masuk ke dalam otak mereka, dan tidak mudah  hilang  dari ingatan.

DI ANTARA hal-hal terpenting yang perlu diprioritaskan menurut pandangan  syariat  ialah:  Mendahulukan  kualitas  dan  jenis urusan  atas  kuantitas  dan  volume  pekerjaan.  Yang   perlu mendapat perhatian kita bukanlah banyak dan besarnya persoalan yang dihadapi, tetapi kualitas dan jenis pekerjaan  yang  kita hadapi.

Al-Qur’an  sangat  mencela terhadap golongan mayoritas apabila di dalamnya hanya diisi oleh orang-orang yang  tidak  berakal, tidak  berilmu, tidak beriman dan tidak bersyukur; sebagaimana disebutkan dalam berbagai tempat di dalamnya:

“… akan tetapi kebanyakan mereka tidak memahamirya.” (al-Ankabut: 63)
“… akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (al-A’raf:187)
“… akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” (Hud:17)
“… akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (al-Baqarah: 243)
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah…” (al-An’am: 116)

Pada masa yang  sama,  al-Qur’an  memberikan  pujian  terhadap kelompok  minoritas apabila mereka beriman, bekerja keras, dan bersyukur; sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya:

“… kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; dan amat sedikitlah mereka ini…” (Shad: 24)
“… dan sedikit sekali hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (Saba’:13)
“Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi…” (al-Anfal: 26)
“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka…” (Hud: 116)

Oleh karena itu, tidaklah penting jumlah manusia yang  banyak, akan  tetapi  yang paling penting ialah banyaknya jumlah orang Mu’min yang shaleh.

Hadits Nabi pernah menyebut jumlah manusia yang banyak:

“Menikahlah kamu, kemudian berketurunanlah, agar jumlah kamu menjadi banyak, karena sesungguhnya akubangga dengan jumlahmu yang banyak atas umat-umat yang lain.”1

Akan tetapi,  Rasulullah  saw  tidak  membanggakan  kebodohan, kefasikan,  kemiskinan  dan  kezaliman  umatnya atas umat-umat yang lain. Namun beliau membanggakan  orang-orang  yang  baik, bekerja keras, dan memberikan manfaatnya kepada orang lain.

Rasulullah saw pernah bersabda,

“Manusia itu bagaikan unta, di antara seratus ekor untaitu engkau belum tentu menemukan seekor yang boleh dijadikan sebagai tunggangan.”2

Perbedaan yang terjadi di antara umat manusia  sendiri  adalah paling  banyak dibandingkan dengan perbedaan yang terjadi pada semua jenis binatang dan lainnya. Dalam sebuah  hadits  pernah dikatakan,

“Tidak ada sesuatu yang lebih baik daripada seribu yang semisalnya kecuali manusia.”3

Kita senang sekali dengan kuantitas  dan  jumlah  yang  banyak dalam  segala  sesuatu, dan suka menonjolkan angka beribu-ribu dan berjuta-juta; tetapi kita tidak banyak  memperhatikan  apa yang  ada  di  balik  jumlah  yang  banyak  itu,  dan apa yang terkandung di dalam angka-angka tersebut.

Salah  seorang  penyair  pada  zaman  Arab   Jahiliyah   telah mengetahui  pentingnya kualitas dibandingkan dengan kuantitas, ketika dia mengatakan,

“Ia mencela kami karena jumlah kami sedikit.

Maka kukatakan kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang yang mulia itu sedikit.”

“Apalah ruginya kami sedikit, kalau dengan jumlah yang sedikit itu kami mulia.

Sedangkan orang-orang yang jumlahnya banyak itu terhina.”

Al-Qur’anpun menyebutkan kepada kita bagaimana tentara Thalut, yang  jumlahnya  sedikit dapat mengalahkan tentara Jalut, yang jumlahnya banyak:

“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya kecuali menciduk seciduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberang sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, merekapun berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. ” Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah…” (al-Baqarah: 249-251)

Al-Qur’an menyebutkan kepada kita bagaimana Rasulullah saw dan para sahabatnya dapat memperoleh kemenangan pada Perang Badar, padahal  jumlah  mereka  sangat  sedikit  dibandingkan  dengan jumlah  musuh  mereka,  kaum  musyrik  yang  jumlahnya  sangat banyak.

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (Ali ,Imran: 123)

“Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Makkah), kamu takut orang-orang Makkah akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikanrrya kamu kuat dengan pertolongan-Nya…” (al-Anfal: 26)

Pada saat yang  lain,  kaum  Muslimin  juga  hampir  menderita kekalahan  pada  Perang  Hunain,  karena mereka melihat kepada kuantitas dan bukan  kualitas,  sehingga  mereka  membanggakan diri dengan kuantitas, dan meremehkan kekuatan ruhaniah, serta kemahiran berperang.  Kemudian  pada  awal  peperangan  mereka terkepung, sehingga mereka baru mengetahui dan menyadari, lalu bertobat; dan  akhirnya  Allah  memberikan  kemenangan  kepada mereka,  dengan memberikan bantuan kekuatan tentara yang tidak mereka lihat.

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para Mu’tmin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (at-Taubah: 25-26)

Telah dijelaskan di dalam al-Qur’an bahwa apabila keimanan dan kemauan   kuat  atau  kesabaran  telah  berkumpul  dalam  diri manusia, maka kekuatannya  akan  menjadi  sepuluh  kali  lipat jumlah   musuh-musuhnya,  yang  tidak  memiliki  keimanan  dan kemauan. Allah SWT berfirman:

“Hai nabi, kobarkanlah semangat para Mu’min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum Muslimin yang tidak mengerti.” (al-Anfal: 65)

Yang demikian ini ialah ketika keadaan mereka kuat.  Sedangkan ketika  mereka  dalam  keadaan  lemah, maka kekuatan itu hanya menjadi   dua   kali   lipat   kekuatan   musuh,   sebagaimana diisyaratkan dalam ayat ini:

“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua rarus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan izin Allah…” (al-Anfal: 66)

Oleh karena  itu,  yang  paling  penting  ialah  keimanan  dan kemauan, dan bukan jumlah yang banyak.

Barangsiapa  mau  membaca  sirah  Rasulullah saw maka dia akan mengetahui bahwa sesungguhnya perhatian beliau tertumpu kepada kualitas  dan  bukan  kuantitas.  Dan  orang yang mau menyimak sirah para sahabat dan para khalifah rasyidin  akan  mendapati hal yang sama dengan jelas sekali.

Umar bin Khatab pernah mengutus Amr bin ‘Ash untuk menaklukkan Mesir, dengan membawa empat ribu orang tentara saja.  Kemudian dia  meminta  tambahan personil tentara lagi, dan Umar memberi empat  ribu  orang   tentara   lagi,   berikut   empat   orang komandannya. Umar berkata, “setiap orang komandan tambahan ini membawahkan seribu  orang  tentera;  dan  aku  menilai  jumlah mereka semuanya adalah dua belas ribu orang tentara. Dua belas ribu  (tentara)  tak  akan  dikalahkan  karena   jumlah   yang sedikit.”

Umar  sangat percaya bahwa yang paling penting ialah kualitas, kemampuan, dan kemauan  mereka  dan  bukan  jumlah  dan  besar mereka.

Diriwayatkan  dari  Rasulullah  saw bahwasanya pada suatu hari beliau duduk  bersama  sebagian  sahabatnya  di  sebuah  rumah temannya, kemudian beliau berkata kepada mereka, “Tunjukkanlah cita-cita kamu.” Maka salah seorang di antara mereka  berkata, “Aku  bercita-cita  ingin  mempunyai  dirham  dari  perak yang memenuhi rumah ini  sehingga  aku  dapat  menafkahkannya  pada Jalan  Allah.”  Orang  yang  lain  bercita-cita  memiliki emas sepenuh rumah tersebut  dan  menafkahkannya  di  jalan  Allah. Sementara Umar berkata, “Aku, ingin memiliki orang seperti Abu Ubaidah  al-Jarrah,  Mu’adz  bin  Jabal,   Salim   Maula   Abu Hudzaifah,  sepenuh  rumah ini agar aku dapat mempergunakannya untak berjuang di jalan Allah.”

Pada zaman kita sekarang ini,  jumlah  kaum  Muslimin  sedunia telah melebihi satu seperempat milyar jiwa. Akan tetapi sayang sekali jumlah  sebesar  itu  kebanyakan  memiliki  sifat  yang pernah  diutarakan  oleh  sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dari Tsauban,

“Pada suatu hari kelak, umar-umat akan memusuhi kalian dari segala penjuru, seperti orang-orang lapar yang  memperebutkan makanan.” Para sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kami yang sedikit pada masa itu wahai Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “Bahkan, jumlah kalian pada waktu itu banyak, akan tetapi kalian hanya bagaikan buih yang terbawa arus air; dan sungguh Allah akan mencabut rasa takut dari dada para musuh kalian; dan sungguh Allah akan menghujamkan wahn di dada kalian. ” Para sahabat bertanya kembali, “Apakah wahn itu wahai Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (lihat al-Jami’ as-Shaghir: 8183).

Hadits ini menjelaskan bahwa jumlah  yang  banyak  saja  belum cukup,  apabila  jumlah  ini  hanya kelihatan megah dari luar,tetapi lemah dari dalam; sebagaimana periode ketika umat hanya bagaikan  buih  yang  terseret arus air; di mana pada masa ini umat  bagaikan  buih,  tidak  memiliki  identitas,  kehilangan tujuan dan jalan yang benar; dan benar-benar seperti buih yang terbawa arus air.

Oleh karena itu, perhatian  kita  hendaknya  ditujukan  kepada kualitas  dan  jenis,  bukan  kepada  sekadar  kuantitas. Yang dimaksudkan dengan kuantitas di sini ialah jumlah sesuatu yang dilihat   secara  material,  besarnya  angka,  luasnya  jarak, besarnya isi, beratnya timbangan, panjangnya waktu,  dan  lain sebagainya yang serupa dengan itu.

Apa  yang  kami  katakan  tentang  besarnya  angka  itu  dapat dicontohkan dalam hal yang lain.

Manusia, misalnya, tidak diukur dari tinggi tubuhnya, kekuatan ototnya,  besar  tubuhnya,  dan kecantikan wajahnya. Semua ini adalah  hal-hal  yang  berada  di  luar   inti   dan   hakikat kemanusiaan.   Tubuh  manusia  –pada  akhirnya–  tidak  lain hanyalah bungkus dan instrumennya, sedangkan hakikatnya  ialah akal dan hatinya.

Allah   SWT  pernah  memberikan  penjelasan  berkenaan  dengan sifat-sifat orang munafik sebagai berikut:

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum…” (al-Munafiqun: 4)

Dia juga pernah  memberikan  sifat  kaum  ‘Ad,  melalui  lidah nabi-Nya, Hud a.s.:

“… dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu…” (al-A’raf: 69)

Akan  tetapi  sesungguhnya  kelebihan   kekuatan   tubuh   itu menjadikan mereka terkecoh dan menyombongkan diri, sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT:

“Adapun kaum Ad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata, “Siapakah yang lebih besar kekuatannya daripada kami?…” (Fushshilat: 15)

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:

“Sungguh akan datang pada hari Kiamat seorang laki-laki besar dan gemuk, maka di sisi Allah ia tidak akan seberat timbangan sayap nyamuk. Allah berfirman: ‘… dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.'” (al-Kahfi: 105)4

Pada  suatu  hari  Ibn  Mas’ud  memanjat  sebuah  pohon,  maka tampaklah  kedua betisnya yang lembek dan kurus, maka sebagian sahabat tertawa karena  melihatnya.  Kemudian  Rasulullah  saw yang mulia bersabda, “Apakah kamu tertawa karena melihat kedua betisnya yang  lembek?  Sesungguhnya,  kedua  betis  itu  jika ditimbang kelak (beratnya) lebih beret daripada bukit Uhud.”5

Oleh  karena  itu tidaklah begitu penting tubuh yang besar den kuat, kalau tidak disertai dengan akal pikiran yang cerdas den hati  yang  jernih.  Dahulu  penyair  Arab mengatakan, “Engkau lihat para pemuda bagaikan kurma dan  engkau  tidak  tahu  apa isinya.”

Hasan  bin  Tsabit  pernah mengejek suatu kaum Muslimin dengan mengatakan,

“Tidak mengapalah suatu kaum itu memiliki tubuh yang jangkung atau pendek, berbadan keledai tetapi berhati burung.”

Hal ini bukan  berarti  bahwa  Islam  tidak  menetapkan  suatu penilaian  terhadap  kekuatan  den kesehatan tubuh manusia. Ia sangat peduli dengan kedua hal ini. Bahkan, Allah  SWT  memuji Thalut dengan firman-Nya:

“… dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa..” (al-Baqarah: 247)

Dalam hadits yang shahih disebutkan:

“Sesungguhnya badanmu memiliki hak atas dirimu.”6

“Orang Mu’min yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang Mu,min yang lemah.” 7

Akan tetapi, pernyataan-pernyataan ini tidak dijadikan sebagai ukuran keutamaan.

Tubuh   yang  perkasa  dan  kuat  bukanlah  ukuran  kelelakian seseorang, dan  bukan  ukuran  keutamaan  pada  diri  manusia. Begitu pula kecantikan paras wajah dan bentuk tubuhnya.

Dalam hadits disebutkan:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kamu, dan bentuk luar kamu, akan tetapi Dia melihat kepada hati-hati kamu.”8

Salah seorang penyair pernah menyampaikan pujiannya kepada Abd al-Malik bin Marwan dengan mengatakan,

“Bila mahkota telah bertengger di atas kepalanya, seakan-akan wajahnya adalah wajah emas.”

Kemudian Abd al-Malik mencemoohkan sang  penyair,  karena  dia memujinya  dengan  pujian  yang  menyerupai  seorang perempuan cantik,  seraya  berkata  kepadanya:  “Mengapa  engkau   tidak memujiku seperti penyair yang memuji Mush’ab bin Zubair?”

“Sesungguhnya Mush’ab adalah meteor dari Allah, yang cahayanya menerangi kegelapan. Putusan yang dia tetapkan sangat kuat, tetapi tanpa mengandung kesewenang-wenangan.”

Memang… lelaki itu dinilai dari ilmu pengetahuan yang ada di otaknya,  dan keimanan yang bersemayam di dalam hatinya; serta amalan sebagai buah imannya. Dan sesungguhnya  amal  perbuatan di  dalam  Islam ini tidaklah diukur dari besar dan jumlahnya, tetapi ia diukur dari sejauh mana  kebaikan  dan  kualitasnya. Melakukan  perbuatan  yang baik bukanlah sunat di dalam Islam, tetapi merupakan sebuah fardhu yang diwajibkan oleh Allah atas orang-orang   yang  beriman,  sebagaimana  fardhu-fardhu  yang diwajibkan atas mereka, seperti puasa dan  fardhu-fardhu  yang lainnya.

Rasulullah saw bersabda,

“Sesungguhnya Allah menulis (mewajibkan) perbuatan yang baik atas segala sesuatu. Jika kamu mau membunuh binatang, maka bunuhlah dengan baik, dan apabila kamu hendak menyembelihnya, maka sembelihlah dengan menyembelih yang baik. Dan hendaklah salah seorang di antara kamu menajamkan pisaunya, dan mengistirahatkan binatang yang disembelihnya.”9

Asal mula arti  menulis  (kataba)  di  dalam  hadits  tersebut menunjukkan adanya kewajiban atau fardhu.

Selain itu, Rasulullah saw juga bersabda,

“Sesungguhnya Allah mencinlai orang yang apabila melakukan sesuatu dia melakukannya dengan sebaik-baiknya.”10

Dia mencintai perbuatan itu  dan  juga  mencintai  orang  yang melakukannya.

Bahkan,  sesungguhnya  al-Qur’an tidak menganggap cukup dengan pelaksanaan  yang  baik,  tetapi  menganjurkan  mereka   untuk melakukan yang terbaik. Allah SWT berfirman:

“Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu…” (az-Zumar: 55)

“… Sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku. Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya…” (az-Zumar: 17-18)

Bahkan,   al-Qur’an   menganjurkan   kita   untuk    membantah orang-orang yang menentang kita dengan cara yang paling baik.

” … dan bantahlah mereka dengan cara yang paling baik…” (an-Nahl: 125)

Serta menyuruh kita untuk menolak kejahatan  itu  dengan  cara yang baik daripada kejahatan tersebut.

“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah
kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka
tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada
permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat
setia”. (Fushshilat: 34)

Dan al-Qur’an melarang kita  untuk  mendekati  harta  kekayaan anak yatim kecuali dengan cara yang paling baik.

“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat…” (al-An’am: 152)

Selain itu, al-Qur’an menjadikan penciptaan bumi  dan  isinya, penciptaan  mati  dan  hidup, penciptaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya sebagai ujian bagi orang-orang yang  dibebani  kewajiban. Semua itu untuk mengetahui siapakah di antara mereka yang terbaik amalannya.

“… siapakah di antara mereka yang terbaik amalannya.” (al-Kahfi: 7)

Sebagaimana yang dijelaskan di  dalam  Kitab  Allah  (Hud:  7; al-Mulk: 2; dan al-Kahfi: 7) bahwa persaingan di antara mereka bukanlah  pada  perbuatan  baik  dan  buruk,   tetapi   antara perbuatan  yang  baik  dan  yang  paling baik. Perhatian orang Mu’min hendaknya senantiasa tertumpu kepada yang  paling  baik dan tertinggi nilainya. Dalam sebuah hadits disebutkan:

“Apabila kamu meminta surga kepada Allah, maka mintalah surga Firdaus, karena ia surga yang terletak paling tengah dan paling tinggi, dan di atasnya adalah singgasana Tuhan.”11

Dalam hadits yang masyhur berkaitan dengan  Jibril  a.s.  yang bertanya   kepada  Rasulullah  saw  tentang  al-ihsan,  beliau menjawab:

“Ihsan itu ialah hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan kalau kamu tidak melihatnya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”12

Begitulah penafsiran al-ihsan dalam ibadah. Yakni  kita  mesti senantiasa  menjaganya,  dan mengikhlaskannya untuk Allah SWT. Amalan-amalan yang diterima di sisi Allah tidak  akan  dilihat bentuk  dan  kuantitasnya,  tetapi yang dilihat ialah inti dan kualitasnya. Betapa banyak amal  yang  dari  segi  lahiriahnya memenuhi syarat, tetapi amal itu kehilangan ruh yang meniupkan kehidupan ke dalamnya. Dan oleh karena itu amal tersebut tidak dianggap   oleh   agama  sebagai  amal  kebajikan,  dan  tidak diletakkan di  dalam  ‘tangan’  timbangan  amal  kebajikan  di akhirat kelak.

Allah SWT berfirman:

Maka celakalah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat riya’ (al-Ma’un: 46)

Berkenaan dengan puasa, Rasulullah saw pernah bersabda,

“Barangsiapa yang tidak mau meninggalkan perkataan bohong, dan mengerjakan kebohongan, maka Allah tidak perlu darinya meninggalkan makan dan minumnya.”13

“Bisa jadi orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala puasanya kecuali lapar, dan kebanyakan orang yang melakukan qiyam lail tidak mendapatkan pahalanya kecuali hanya keterjagaan di malam hari.”14

Allah SWT berfirman:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, …” (al-Bayyinah: 5)

Rasulullah saw yang mulia bersabda,

“Sesungguhnya amalan harus disertai dengan niat, dan setiap orang itu akan tergantung kepada niatnya. Maka barangsiapa berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan mendapatkan Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa berhijrah untuk memperoleh dunia, atau berhijrah untak memperoleh wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya adalah untuk apa yang ia niatkan.”15

Oleh karena itu, para ulama Islam sangat memberikan  perhatian kepada   hadits   tersebut.  Bukhari  juga  membuka  kitabnya, al-Jami’  as-Shahih,  dengan  hadits   ini.   Sebagian   ulama menganggap bahwa niat adalah seperempat amalan Islam; sebagian yang lain menilainya sepertiga; karena niat itu begitu penting dalam  hal yang berkaitan dengan diterimanya amalan seseorang. Mereka  menganggapnya  sebagai  timbangan   bagi   inti   amal perbuatan   tersebut;   sebagaimana  disebutkan  dalam  sebuah hadits:

“Barangsiapa melakukan suatu amalan, yang tidak ada landasan dari kami, maka amalan itu tidak diterima.”16

Abu Ali al-Fudhail bin  Iyadh  pernah  ditanya  tentang  makna “amalan yang paling baik” pada firman Allah: ” … siapakah di antara kamu yang paling baik  amalannya…  ”  (Hud:  7),  dia menjawab,  “Amalan yang paling ikhlash dan paling baik.” Orang itu bertanya lagi:  “Apakah  amalan  yang  paling  ikhlas  dan paling baik ini?” Dia menjawab, “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amal perbuatan selama ia tidak murni dan  baik. Jika  amal  perbuatan  itu baik, tetapi tidak murni untuk-Nya, maka ia tidak diterima.  Sebaliknya,  jika  amalan  itu  murni tetapi tidak baik, maka ia juga tidak diterima. Kemurnian amal itu  hendaknya  hanya  semata-mata  untuk   Allah;   sedangkan kebaikannya  ialah  bahwa amal itu hendaknya sesuai dengan apa yang digariskan oleh sunnah Nabi saw.”

Itulah makna “perbuatan yang paling baik” dalam  urusan  agama dan   ibadah.   Adapun   kebaikan  dalam  urusan  dunia  ialah tercapainya  tingkat  kebaikan  yang  dapat  mengalahkan  yang lainnya, sehingga ia menjadi yang paling unggul. Dan perbuatan seperti ini tidak dapat  dilakukan  kecuali  oleh  orang-orang yang betul-betul serius.

Di  antara  hadits  Nabi saw yang menunjukkan kepada persoalan ini ialah sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan  oleh  Muslim dari Abu Hurairah r.a.

“Barangsiapa yang membunuh kutu pada pijatan pertama, maka akan dituliskan baginya seratus kebaikan. Sedangkan pijatan kedua di bawah tingkatan itu, dan pijatan ketiga di bawahnya lagi.”17

Hadits ini mengarahkan kepada kita mengenai betapa  pentingnya melaksanakan   suatu   pekerjaan  dengan  baik  dan  sempurna, walaupun hanya membunuh seekor kutu. Karena hal ini sebetulnya termasuk   membunuh  dengan  cara  yang  baik,  “Apabila  kamu menyembelih binatang, maka lakukanlah dengan  baik.”  Membunuh dengan cara yang cepat membuat binatang yang dibunuh itu tidak merasakan sakit.

Kalau amal perbuatan tidak dapat diukur dengan  kuantitas  dan besarnya,  maka  umur  manusia  tidak dapat diukur dengan lama waktunya.

Ada orang yang berumur panjang, tetapi umurnya  tidak  membawa berkah;  dan  ada pula orang yang tidak berumur panjang tetapi orang itu sarat dengan pelbagai kebajikan dan  perbuatan  yang terbaik.

Sehubungan  dengan  hal  ini,  Ibn  ‘Atha’illah  berkata dalam hikmahnya: “Banyak sekali umur panjang yang  diberikan  kepada manusia,  tetapi  sumbangan  yang diberikannya sangat sedikit. Dan banyak sekali umur pendek yang diberikan  kepada  manusia, tetapi  sumbangan yang diberikannya sangat banyak. Barangsiapa yang umurnya diberi berkah oleh Allah SWT maka dalam masa yang pendek  dia  akan  mendapatkan berbagai karunia dari-Nya, yang sangat sulit untuk diungkapkan.”

Cukuplah bagi kita sebuah contoh. Yaitu Nabi saw  yang  mulia, dalam  masa  dua  puluh tiga tahun –yaitu masa setelah beliau diangkat menjadi nabi– beliau diberi berkah oleh  Allah  SWT. Dalam  masa  ini  beliau berhasil mendirikan agama yang paling mulia, mendidik generasi yang paling  baik,  menciptakan  umat yang  terbaik,  mendirikan  negara  yang  paling  adil, menang terhadap penyembahan berhala orang-orang kafir, Yahudi,  serta memberikan   warisan  abadi  kepada  umatnya  –setelah  kitab Allah– sunnah yang menjadi petunjuk, dan sirah yang sempurna.

Begitu pula halnya dengan Abu Bakar r.a. Dalam masa dua  tahun setengah,  dia  berhasil  mengalahkan orang-orang yang mengaku dirinya sebagai  nabi-nabi  palsu,  mengembalikan  orang-orang murtad   ke   pangkuan   Islam,   mengirimkan   tentara  untuk menaklukkan  Persia  dan  Romawi,  mendidik  orang-orang  yang enggan  membayar  zakat,  menjaga  hak-hak fakir miskin dengan mengambilkan hak  mereka  pada  harta  orang-orang  kaya,  dan merekamkan    dalam    sejarah    kedaulatan    Islam    bahwa pemerintahannya  adalah   pemerintahan   yang   pertama   kali berperang untuk membela hak-hak fakir miskin.

Umar  bin  Khatab  dalam masa sepuluh tahun berhasil melakukan pelbagai penaklukan wilayah di luar,  dan  memantapkan  kaidah pemerintahan yang adil berdasarkan musyawarah secara internal. Dia  telah  menciptakan  berbagai  tradisi  yang   baik   bagi orang-orang  sesudahnya  yang dikenal dengan “prioritas Umar.” Dia  telah  berhasil  memancangkan  tiang-tiang  fiqh  sosial, khususnya  fiqh  kenegaraan,  yang  disandarkan kepada tujuan, pertimbangan   antara   pelbagai   kemaslahatan,    melindungi generasi, serta memberanikan orang untuk memberikan usu1an dan kritik kepada hakim. Dia berkata,  “Tidak  ada  kebaikan  pada dirimu  selama  kamu  tidak  mau  mengatakannya, dan tidak ada kebaikan bagi kami selama kami tidak mendengarkannya.”  Selain itu,  Umar  juga  sangat menjauhi dunia, memiliki kemauan yang kuat untuk  menjalankan  kebenaran,  mewujudkan  keadilan  dan persamaan  hak  di  antara  manusia,  bahkan  bila  dia  harus melakukan qisas terhadap para gubernur dan anak-anaknya.

Umar bin Abd al-Aziz menjadi khalifah selama tiga puluh bulan. Melalui tangannya, Allah SWT menghidupkan tradisi keadilan dan kecemerlangan, mematikan kezaliman dan kesesatan. Dia  menolak berbagai  bentuk kezaliman dan memberikan hak-hak kepada orang yang berhak memperolehnya. Dia  telah  berhasil  mengembalikan kepercayaan  orang  kepada  Islam, sehingga semua orang merasa lega, tenang dan tidak merasa  ketakutan.  Dia  memberi  makan orang-orang  yang  lapar, menyebarluaskan kemakmuran, sehingga orang-orang  yang  berharta  berkata,  “Di  mana  kami   harusmeletakkan  zakat,  ketika semua manusia telah diberi kekayaan oleh Allah SWT.”

Imam  Syafi’i,  yang  hidup  selama  lima  puluh  empat  tahun –menurut  perhitungan  tahun  qamariyah– (150-204 H.) tetapi dia mampu memberikan berbagai sumbangan ilmiah yang orisinal.

Imam al-Ghazali, yang  hidup  selama  lima  puluh  lima  tahun (450-505 H.) meninggalkan kekayaan ilmiah yang bermacam-macam.

Imam  al-Nawawi,  yang  hidup  selama  empatpuluh  lima  tahun (631-676 H.) meninggalkan warisan yang sangat bermanfaat  bagi kaum  Muslimin  secara  menyeluruh;  baik berupa hadits, fiqh; yaitu dari hadits empat  puluhnya  hingga  penjelasannya  atas hadits   Muslim;   dari   metodologi   fiqh   hingga   Rawdhah al-Thalibin; dan lain-lain.

Begitu pula halnya dengan para ulama yang lain;  seperti:  Ibn Arabi,  al-Sarakhsi, Ibn al-Jawzi, Ibn Qudamah, al-Qarafi, Ibn Taimiyah, Ibn al-Qayyim, al-Syathibi, Ibn Khaldun, Ibn  Hajar, Ibn  al-Wazir,  Ibn  al-Hammam,  al-Suyuthi,  al-Syaukani, dan lain-lain  yang   memenuhi   dunia   ini   dengan   ilmu   dan keutamaannya.

Oleh  karena  itu,  ada orang yang meninggal dunia sebelum dia mati. Umurnya telah habis padahal dia masih hidup. Tetapi  ada orang  yang  dianggap masih hidup setelah dia meninggal dunia. Karena dia  meninggalkan  amal-amal  yang  shaleh,  ilmu  yang bermanfaat,  keturunan  yang  baik,  murid-murid yang dianggap dapat memperpanjang umurnya.

Bulan Rejab: Apakah fadhilatnya melebihi dari bulan-bulan yg lain?

 

Bulan Rejab merupakan salah satu bulan dari 12 bulan-bulan Islam. Bulan Rejab mengandungi peristiwa-peristiwa bersejarah kepada orang Islam di mana berlakunya peperangan Tabuk, pembebasan Al-Aqsa dari tangan tentera Salib dan juga ada orang Islam yang berpendapat bahawa bulan inilah berlakunya peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Tidak kurang juga ramai yang melihat bulan Rejab ini sebagai satu bulan spiritual di mana mereka mempertingkatkan ibadah sunat khususnya ibadah puasa.

 

Tarikan dan seruan yg ditiup ke dalam jiwa umat Islam Nusantara terutamanya untuk melakukan ibadah kebanyakannya dipengaruhi oleh penyebaran beberapa Hadith-Hadith yg mengandungi fadhilat-fadhilat beribadah di dalam bulan ini. Jelas terlihat dari segi jualan buku-buku kecil yg mengandungi fadhilat-fadhilat bulan Islam begitu laris di pasaran menjelang bulan Rejab. Begitu juga di zaman era Internet ini (ICT), e-mail dan maling list yg di forwardkan mengandungi ‘cut & paste’ dari fadhilat-fadhilat Rejab yg terkandung di dalamnya. Rata-rata tarikan fadha’il (fadhilat-fadhilat) inilah merupakan faktor penarik kepada kebiasaan orang awam untuk melakukan ibadah sunat. Injeksi faktor ini dapat kita lihat dengan jelas penerapannya di dalam budaya Melayu-Islam seperti rangkap-rangkap sya’ir di bawah ini: [1]

 

Rejab bulan menabur benih

Sya’ban bulan menyiram tanaman

Ramadhan bulan menuai

 

Rejab menyuci badannya

Sya’ban menyucikan hati

Ramadhan menyucikan rohnya

 

Rejab bulan marghfirah

Sya’ban bulan syafaat

Ramadhan bulan menggandakan kebajikan

 

Rejab bulan taubat

Sya’ban bulan muhibbah

Ramadhan dilimpahi pahala amalan seperti hujan mencurah banyaknya

 

Rejab digandakan 70 pahala

Sya’ban diganda 700 pahala

Ramadhan diganda 1000 pahala

 

Mungkin timbul beberapa persoalan yg tersimpan di dalam lubuk hati kita: Mengapa bulan Rejab sahaja yg dipilih mempunyai kelebihannya? Pernah atau tidak kita terfikir yg mungkin berita-berita ini ditokok-tambah (exaggerate) oleh manusia biasa yg bercakap atas nama Nabi SAW? Mengapa di dalam bulan ini terdapat solat-solat khas, zikir-zikir khas dan juga waktu-waktu khas untuk melakukan peribadahan? Di sini kita ingin membawa beberapa penjelasan dari ulama’-ulama’ muktabar dan kontemporari mengenai keshahihan fadhilat yg terdapat di dalam bulan itu sendiri, dan apakah sebenarnya fadhilat yg terkandung di dalam Rejab.

 

 

Bulan Rejab merupakan satu bulan daripada bulan-bulan Haram

 

Bulan Rejab merupakan salah satu dari bulan-bulan ‘Haram’ di dalam Islam. Dalilnya terdapat di dalam Firman Allah SWT di dalam Surah At-Taubah ayat 9:

 

“Sesungguhnya bilangan bulan-bulan di sisi (hukum) Allah ialah dua belas bulan, (yang telah ditetapkan) dalam Kitab Allah semasa Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan yang dihormati. Ketetapan yang demikian itu ialah agama yang betul lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan yang dihormati itu (dengan melanggar laranganNya) dan perangilah kaum kafir musyrik seluruhnya sebagaimana mereka memerangi kamu seluruhnya dan ketahuilah sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang bertaqwa.”

Menurut Tafsir Jalalain, yg dimaksudkan dengan “di antaranya empat bulan yg dihormati” ialah:

“Empat bulan Haram – Zulqaedah, Zulhijjah, Muharram dan Rejab.” [2]

 

Allah SWT telah mengurniakan kepada manusia 4 bulan haram. Bulan-bulan ini sebagaimana yg disepakati oleh semua ulama’ ialah Zulqaedah, Zulhijjah, Muharram dan Rejab. Umat Islam adalah diharamkan pergi berperang di dalam bulan-bulan ini, kecualilah jika mereka diugut. Di dalam bulan ini terdapatnya ibadah Haji dijalankan (Zulhijjah), di mana pada hari Arafah disunatkan bagi mereka yg tidak menunaikan haji melakukan ibadah puasa. Rasulullah SAW juga menggalakan umat Islam melakukan puasa sunat pada hari Asyura’ (10 Muharram).

Apakah terdapatnya keshahihan fadhilat khas berpuasa di dalam bulan Rejab?

 

Di sini dinyatakan pandangan para ulama’ mengenai keshahihan fadhilat Rejab.

 

1. Sheikh Atiyah Al-Saqr

 

a. Kebanyakan fadhilat Rejab terkandung di dalam Hadith yg Sangat Dha’if dan Mawdhu’

Bekas Ketua Lujnah Fatwa Al-Azhar ini mengatakan bahawa setiap fadhilat sesuatu perkara itu harus dilihat dari segi nas yg shahih dan beliau melihat bahawa Hadith-Hadith yg didatangkan mengenai fadhilat di dalam bulan Rejab kebanyakannya adalah Dha’if dan Mawdhu’, katanya: [3]

 

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi fadhilat kepada beberapa bulan dan tempat, tetapi tidak tsabit untuk masa (zaman) dan untuk tempat melainkan dengan dalil yg qath’i (nyata) dan tidak tsabit sehingga tidak mendusta ke atas Nabi Muhammad SAW, dan banyak Hadith-Hadith timbul mengenai fadhilat bulan Rejab, di mana statusnya antara Dha’if (Lemah) dan Mawdhu’ (Palsu), dan tidak tsabit dari pembawanya (naqal).”

 

Menurut Al-Saqr lagi bahawa:

 

“Al-Hafiz Ahmad bin Ali bin Mohammad bin Hajar Asqalaani meletakkan di dalam risalahnya dengan topiknya: Penjelasan yg datang di dalam Fadhilat Rejab, pengumpulan jumhur Hadith menyebut mengenai Fadhilat-Fadhilat Rejab, Puasa dan Solat di dalamnya. Ia dikelaskan sebagai Dha’if dan Mawdhu’.”

 

b. Fadhilat Rejab berada bersama dengan fadhilat bulan-bulan haram yg lain

Fadhilat Rejab secara umumnya berada di dalam fadhilat bulan-bulan Haram sebagaimana Firman Allah di dalam surah At-Taubah: 36, dan terdapat juga Hadith Shahihain mengenai Hijatul Wada’, di dalamnya dinyatakan nama bulan bulan tersebut, iaitu: Zulqaedah, Zulhijjah dan Muharram, dan yg tunggal ialah Rejab. Di masa itu umat Islam ditegah melakukan kezaliman, peperangan dan juga dilarang melakukan maksiat kepada Allah SWT.

 

c. Berpuasa hari pertama atau yg lain sama sahaja fadhilatnya

 

Berkata Al-Saqr lagi bahawa:

 

“Amalan shaleh di dalam bulan Rejab adalah sebagaimana ganjarannya di dalam bulan-bulan Haram, yg di dalamnya terdapat puasa, SAMA sahaja [berpuasa] hari pertama atau pun hari akhir. Berkata Ibnu Hajar : Sesungguhnya bagi bulan Rejab tidak terdapatnya Hadith mengenai fadhilat khas berpuasa, tidak terdapat yg Shahih atau Hasan.

 

Beliau memetik beberapa Hadith Dha’if dan Mawdhu’, di antaranya ialah:

 

i. “Sesungguhnya di dalam syurga ada sebuah sungai yg dipanggil Rejab, warna airnya sangat putih dari susu, manisnya lebih manis dari madu, barangsiapa yg berpuasa satu hari dari bulan Rejab, maka Allah akan memberi ia minum dari sungai itu”Hadith ini Dha’if

 

ii. “Barangsiapa berpuasa sehari di dalam bulan Rejab seolah-olah dia berpuasa satu bulan, dan siapa yg berpuasa di dalamnya 7 hari maka akan ditutup 7 pintu-pintu neraka, dan barangsiapa yg berpuasa 8 hari maka 8 pintu-pintu syurga akan terbuka, dan barangsiapa yg berpuasa 10 hari, maka akan digantikan dosa dengan kebaikan”Hadith ini Dha’if

 

iii. Terdapat sebuah Hadith yg panjang mengandungi fadhilat berpuasa Rejab menurut hari, dan di dalamnya terkandung matan: “Rejab bulan Allah, Sya’ban bulanku dan Ramadhan bulan umatku.”Hadith ini Mawdhu’

 

d. Tiada solat khas di dalam Rejab

 

Daripada Hadith yg tidak diterima (ghair maqbulah) mengenai solat:

 

“Barangsiapa yg solat Magrib di awal malam dari bulan Rejab, kemudian diikuti oleh solat 20 rakaat selepasnya, dia membaca pada setiap rakaat Al-Fatihah dan Qulhu Allahu Ahad sekali dan dia memberi salam kepadanya 10 kali salam, Allah akan menjaga dirinya, keluarganya, hartanya dan anaknya, dan akan diselamatkan dari azab kubur, dan perjalanan di sirat bagaikan boraq, tanpa hisab dan azab.”Hadith ini Mawdhu’

 

e. Menziarahi kubur pada bulan Rejab tiada nasnya

 

Mengenai fadhilat menziarahi kubur pada bulan Rejab, Sheikh Atiyah Al-Saqr mengatakan bahawa perbuatan ini tidak ada dalilnya di dalam Islam. Beliau menyarankan agar lebih elok melihat mengenai sejarah-sejarah yg berlaku di bulan Rejab dan mengambil tauladan daripadanya.

 

“Ini adalah manusia yg prihatin, dan wanita dari kumpulan tertentu, mereka menziarahi kubur pada hari Jumaat pertama di dalam bulan Rejab, tidaklah ada asalnya di dalam agama, dan tiada ganjaran yg besar daripada ziarah tersebut, dan bukanlah hari ini. Adalah lebih aula di dalam bulan Rejab ini kita mengingati kembali sejarah yg berlaku kepadanya seperti penaklukan Tabuk, mengingati Shalahuddin Al-Ayyubi yg menyelamatkan  Jerusalem (Al-Quds) dari tangan tentera Salib (Rejab 583H, 1187M). Orang Arab dan Islam menyucikan Masjid Al-Aqsa dari Ketua Pasukan Pakatan. Kita mengingati kembali peristiwa Isra’ dan Mi’raj iaitu pengajaran darinya, di mana orang Islam menganggapnya berlaku di dalam bulan Rejab. Allah yg Maha Mengetahui.”

 

 

2. Sheikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi

 

a. Fadhilat Rejab sama dengan fadhilat bulan-bulan haram yg lain

 

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi mengatakan bahawa fadhilat Rejab adalah sama seperti yg terdapat di dalam 3 bulan-bulan Haram yg lain. Katanya [4]:

 

“Tidaklah ada keshahihan di dalam bulan Rejab, melainkan ia merupakan salah satu dari bulan-bulan haram, bahawa Allah SWT telah menyebut di dalam kitabnya – di dalamnya ada 4 bulan haram – Al-Taubah: 36. Iaitu Rejab, Zulqaedah, Zulhijah dan Muharram. Itulah bulan-bulan yg mempunyai fadhilat. Tidak terdapat Hadith Shahih khusus yg mengatakan Rejab lebih afdhal, melainkan Hadith Hasan: Sesungguhnya Nabi SAW banyak berpuasa di dalam Sya’ban.

 

b. Hadith-hadith mengenai fadhilat Rejab kebanyakannya Dha’if dan Mawdhu’

 

Beliau juga menyatakan bahawa Hadith-Hadith mengenai fadhilat-fadhilat khas Rejab kebanyakan merupakan Hadith Mawdhu’ ataupun yg Sangat Dha’if tarafnya:

 

“Hadith ini dimaklumkan sebagai sebuah Hadith yg mengandungi fadhilat Rejab – “Rejab bulan Allah. Sya’ban bulanku dan Ramadhan bulan umatku.Hadith ini mungkar dan sangat-sangat Dha’if, bahkan beberapa ulama’ mengatakan Hadith ini Mawdhu’, yakni penipu. Maka bukanlah kepadanya nilai saintifik dan bukanlah mempunyai nilai agama. Di situ ada Hadith yg mengatakan terdapat fadhilat Rejab kepada sesiapa yg bersolat begini dan ia mendapat begini, dan sesiapa yg meminta beristighfar sekali kepadanya maka ia akan mendapat ganjaran begini. Ini semua adalah berlebih-lebihan, dan semuanya adalah pembohongan. Dari ini satu tanda satu penipuan di dalam Hadith yg memasukkan perkara yg berlebih-lebihan.”

 

c. Ganjaran yg dijanjikan tidak sepadan dengan amalannya

 

Pada beliau ganjaran-ganjaran yg dinyatakan di dalam Hadith Mawdhu’ itu adalah sesuatu yg berlebih-lebihan. Ini merupakan satu pendustaan yg amat besar. Menurut beliau ganjaran sesuatu ibadah itu mestilah setimpal dengan bentuk ibadah itu sendiri. Katanya:

 

“Berkata ulama’: Janji untuk mendapatkan ganjaran yg besar di atas perkara yg biasa, atau ugutan kepada azab yg pedih ke atas dosa kecil? Ia menunjukkan bahawa ini merupakan Hadith yg bohong.

 

d. Umat Islam perlu mengetahui jenis-jenis Hadith yg Mawdhu’

 

Dr. Yusuf Qaradhawi menyatakan bahawa sebagai seorang Islam kita wajib mengetahui mengenai Hadith yg diberikan kepada kita. Tiada alasan yg boleh kita berikan kerana terdapatnya buku-buku yg banyak di pasaran mengenai taraf sesuatu Hadith. Kata beliau:

 

“Ulama’ telah memberi amaran ke atas Hadith Mawdhu’ dan bohong ini, dan melarang manusia terhadapnya. Sesungguhnya telah datang Hadith: Barangsiapa mereka-reka Hadith, sesungguhnya ia menipu, maka dia adalah pembohong. (Riwayat Imam Muslim di dalam muqaddimahnya yg Shahih), tetapi mereka tidak mengetahui bahawa ia adalah Hadith Mawdhu’, maka ia wajib mengetahui Hadith itu dari mana sumbernya. Maka di sana ada Kitab Hadith yg Muktamad, di sana ada kitab khas untuk mengetahui Hadith Mawdhu’, contoh Al-Maqasid Al-Hasanah, karangan Al-Shakhaawi dsb.”

 

 

3. Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani

 

Ibnu Hajar mengatakan adalah menjadi satu kesalahan menetapkan sesuatu hari atau bulan itu khas untuk melakukan amalan. Kenyataan ini dapat di lihat di dalam fatwa Sheikh Al-Saqr [5] mengenai fadhilat Rejab, dengan memetik kata-kata Ibnu Hajar:

 

“Ibnu Hajar di dalam makalahnya ada menyebut berkenaan dengan hadith-hadith yg melarang berpuasa Rejab sepenuhnya, maka beliau berkata :

 

Larangan ini terpulanglah kepada sesiapa yg berpuasa memuliakan Jahiliyyah, sebagaimana jika dia berpuasa dengan qasad (niat) yg bukan menjadikan penekanan atau mengkhususkan mengenai hari-hari yg dia berpuasa, atau pada malam tertentu dia berqiamullail. Jika beliau percaya yg dilakukan itu adalah sunnah, maka ini adalah pekerjaan yg baik atas apa yg diletakkan dan tidak mengapa baginya. Namun jika ianya dikhaskan atau menjadi suatu ketetapan, maka ia adalah ditegah (mahzhur), dan makna penegahan itu di dalam Hadith Nabi SAW: “Jangan mengkhaskan hari Jumaat untuk berpuasa dan jangan [mengkhaskan] malamnya berqiamullail.” – Riwayat Imam Muslim.

 

Jika mempercayai puasanya atau puasa ini lebih baik dari puasa lainnya yg di dalamnya terkandung puasa nazar, Ibnu Hajar lebih cederung menegahnya, dan sebagaimana yg dinaqalkan oleh Abi Bakar Al-Thorthorshi di dalam bukunya “Bid’ah wa Hawadith” bahawa bulan Rejab dibenci olehnya kerana 3 jenis:

 

1. Sesungguhnya jika orang Islam mengkhaskan puasa di setiap hari kemuliaan awam secara tahunan.

 

2. Menjadikan ia seperti kefardhuan Ramadhan, atau menjadikan ia sunat sebagai sunat yg kekal.

 

3. Kerana puasa ini mempunyai fadhilat khas dan puasa-puasa yg lainnya
kalau dengan itu apa yg dijelaskan oleh Rasulullah SAW yg diriwayatkan dari Ibnu Dhiya: “Puasa adalah amalan kebajikan.” Tidak terdapat fadhilat berpuasa di dalam Rejab, maka perkara itu ditegah darinya. Tamat apa yg dinaqalkan oleh Ibnu Hajar.”

 

 

4. Dr. Sayyid Saabiq

 

Menurut seorang tokoh Ikhwan, Dr Sayyid Saabiq di dalam membicarakan bab puasa sunat, mengatakan bahawa:

 

“Puasa Rejab, bukanlah ada padanya fadhilat yg berlebih dari bulan-bulan lain, melainkan sesungguhnya ia dari bulan-bulan yg haram.”

 

Ini bermaksud bahawa bulan-bulan haram ini mempunyai fadhilat-fadhilat yg sama. Pendapat juga disokong oleh mazhab Hanbali yg mengatakan menetapkan bulan Rejab sahaja untuk berpuasa sunat adalah makruh. [6]

 

 

Hadith-hadith fadhilat Rejab yg Mawdhu’ atau Dha’if

 

Di bawah ini disenaraikan beberapa contoh hadith-hadith Mawdhu’ berkenaan dengan fadhilat Rejab: [7]

 

a. “Barangsiapa yg mengerjakan solat Maghrib pada permulaan malam Rejab kemudian dia mengerjakan 20 rakaat dengan membaca surah Al-Fatihah dan Qul Huwallahu Ahad pada tiap-tiap rakaat satu kali, dan dia memberi salam pada solat ini dengan 10 salam, maka tahukah kamu apa ganjaranya?” – Hadith ini Mawdhu’

 

* Diriwayatkan oleh Al-Jawzaqanni dari Anas, kemudian beliau berkata Hadith ini adalah Mawdhu’.

 

b. “Barangsiapa yg melakukan solat pada malam Nisfu Rejab 14 rakaat dengan membaca Alhamdu 1 kali pada rakaat, Qul Huwallahu Ahad 20 kali, Qul A’uuzu Birabbil Falaq 3 kali, Qul A’uuzu Birabbin Nas 3 kali, kemudian apabila dia selesai bersolat hendaklah ia berselawat ke atasku 10 kali dan kemudian dia bertasbih, bertahmid dan bertahlil 30 kali, maka Allah akan mengutuskan kepadanya 1000 malaikat.” – Hadith ini Mawdhu’

 

* Dalam sanadnya terdapat beberapa rawi yang majhul.

 

 

c. “Barangsiapa yg berpuasa sehari pada bulan Rejab (ganjarannya) sama dengan puasa sebulan.” – Hadith ini Sangat Dha’if

 

* Diriwayatkan oleh Al-Khathiib dari Abi Dzar.

* Dalam sanadnya ada rawi yg bernama: Al-Furaat bin As-Saaib, dia adalah seorang rawi yg matruk.

* Ibnu Hajar Al-Asqalani telah menjelaskan bahawa para ahli Hadith telah sepakat, bahawa Hadith ini diriwayatkan dari jalan Al-Furaat bin As-Saaib, sedangkan rawi ini adalah seorang yg Dha’if.

 

 

d. “Barangsiapa yg berpuasa 3 hari pada bulan Rejab, dituliskan baginya ganjaran puasa satu bulan, dan barang siapa yg berpuasa 7 hari pada bulan Rejab maka Allah tutupkan daripadanya 7 pintu-pintu api neraka. Dan barangsiapa yg berpuasa 8 hari pada bulan Rejab maka Allah membuka baginya 8 buah pintu dari pintu-pintu syurga, dan barang siapa yg berpuasa separuh dari bulan Rejab maka dia akan di hisab dengan hisab yg mudah.” – Hadith ini Mawdhu’

 

* Tidak disahkan Hadith ini kerana rawi yg bernama Abaan merupakan rawi yg matruk (dituduh berdusta).
* Selain dari itu ada rawi yg bernama Amar bin Al-Azhar yg sangat suka memalsukan Hadith.

 

 

e. “Barangsiapa yg berpuasa satu hari pada bulan Rejab dan bangun pada malam harinya mengerjakan solat malam maka Allah akan membangkitkan dia pada hari Kiamat dalam keadaan aman, dan dia berjalan di atas sirat dalam keadaan Tahlil dan Takbir.” – Hadith ini Mawdhu’

 

* Dalam sanadnya ada rawi yg bernama Ismail, dia adalah seorang rawi yg suka berdusta.

 

f. “Barangsiapa yg menghidupkan satu malam dari bulan Rejab mengerjakan solat malam dan berpuasa padanya satu hari, maka Allah memberi makan kepadanya dari buah-buahan Syurga.”  – Hadith ini Mawdhu’

 

* Dalam Kitab Al-Laaly dijelaskan bahawa Hadith ini diriwayatkan oleh Hussain bin Ali. Kemudian diterangkan bahawa Hadith ini Mawdhu’.

 

 

Bagaimana beramal di dalam bulan ini?

 

a. Sheikh Mahmud As-Sya’rawi [8] di dalam menjawab satu pertanyaan mengenai “Apakah bulan dari bulan-bulan ‘am yg afdhal manusia berpuasa selepas bulan Ramadhan”, beliau memetik Hadith berikut yg diriwayatkan oleh Musnad Ahmad:

 

“Seorang lelaki telah bertanya Rasulullah SAW, katanya: Bulan mana kamu perintahkan aku berpuasa selepas Ramadhan? Maka Rasulullah SAW menjawab: Jika berpuasa selepas Ramadhan, maka berpuasalah di bulan Haram, maka sesungguhnya di dalamnya dari Taubat Allah SWT ke atas satu kaum, dan terdapat taubat di dalamnya untuk satu kaum yg lain.

 

Jelas di sini menunjukkan bulan-bulan haram ini disunatkan berpuasa dan juga terdapatnya keampunan Allah SWT di dalam bulan-bulan ini.

 

 

b. Bekas Mufti besar Arab Saudi, Sheikh Abdul Aziz Bin Baaz apabila ditanya tentang berpuasa pada bulan-bulan haram, beliau menjawab [9]:

 

“Bulan Muharram dari segi syara’ dibolehkan berpuasa dengannya dan begitu juga Sya’ban, di sana terdapatnya 10 Zulhijjah, bukanlah ada dalil di sana ke atasnya, akan tetapi berpuasa dengannya TANPA ber’itiqad yg khusus (khas) atau pribadi, maka tidaklah menjadi masalah.”

Bagi bulan Allah Al-Haram tersebut, Rasulullah SAW pernah bersabda : “Seafdhal-adhfal berpuasa selepas Ramadhan ialah di bulan Allah Al-Haram.” Maka adalah baik bagi berpuasa, atau berpuasalah pada 9, 10 dan 11, itulah yg baik, begitu juga dengan Sya’ban di mana Nabi SAW berpuasa dengannya.”

 

 

c. Seorang ulama’ Islam dari negara Syria yg terkenal pada masa kini, Dr. Wahbah Az-Zuhaily mengatakan bahawa, kebanyakan iman empat mazhab (Syafi’e, Hanbali, Maliki dan Hanafi) bersetuju mengenai terdapatnya amalan berpuasa sunat di dalam bulan-bulan haram ini, cuma ia berbeza pendapat mengenai cara implementasinya.

 

Kata Dr. Wahbah Az-Zuhaily [10]:

 

“Keutamaan berpuasa pada bulan-bulan ini terdapat di sisi Mazhab Maliki dan Syafi’e, dan mazhab Hanbali berpuas hati dengan keputusan sendirinya dengan memberi keutamaan berpuasa di bulan Haram, pada mereka itulah puasa yg afdhal selepas Ramadhan. Telah bersabda Rasulullah SAW: “Seafdhal solat ialah pertengahan malam, dan seafdhal puasa selepas bulan Ramadhan ialah di bulan Allah Al-Haram. Seafdhal puada di bulan Haram ialah Hari Asyura’, sebagaimana di antaranya.” Dan berkata mazhab Hanafiah: Sunat berpuasa di dalam bulan-bulan Haram, iaitu berpuasa 3 hari dari semuanya iaitu: Khamis, Jumaat dan Sabtu.”

d. Sheikh Abdurrahman Al-Jaziry di dalam buku Kitab Fiqh Empat Mazhab [11] juga memetik persetujuan 4 mazhab ini mengenai puasa di bulan-bulan haram, katanya:

 

“Mengenai sunat berpuasa di bulan Rejab dan Sya’ban, imam-imam ini telah bersetuju dengannya, cuma terdapat khilaf dengan Hanbali. Hanbali: Menetapkan puasa Rejab (secara tunggal) adalah makruh, melainkan jika ia berbuka (tidak berpuasa) secara selang-seli, maka tidaklah makruh.”

e. Panelis fatwa IslamOnline, Sheikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, ketika diminta memberi fatwa mengenai apakah berpuasa di dalam bulan Rejab itu sunat atau bid’ah, beliau telah menjawab [12]:

 

“Berpuasa di dalam bulan Haram adalah maqbul dan mustahab, ke atas semua perkara. Tetapi bukanlah datang dari Rasulullah SAW bahawa beliau berpuasa satu bulan penuh, melainkan pada bulan Ramadhan. Baginda banyak berpuasa di dalam bulan Sya’ban, tetapi tidak berpuasa sepenuhnya, dan itulah sunnah Nabawiyyah. Baginda berpuasa dan berbuka pada setiap bulan, seperti riwayat yg mengatakan: Baginda berpuasa sehingga kami mengatakan Baginda tidak berbuka, Baginda berbuka sehingga kami mengatakan Baginda tidak berpuasa. – Riwayat Imam Bukhari, Muslim dan Abu Daud.

 

Maka beberapa golongan manusia yg berpuasa dalam seluruh bulan Rejab, sebagaimana yg kita lihat sebelum ini, “Aku telah lihat beberapa orang berpuasa bulan Rejab, Sya’ban, Ramadhan dan 6 hari di dalam bulan Syawal, dan menamakannya ‘Al-Ayam Al-Baidh’, selepas berbuka, mereka akan menjadi perayaan pada hari yg ke 8 dari Syawal. Hasil dari puasa ini ialah 3 bulan dan 6 hari saling berhubungan, mereka hanya akan berbuka apabila tiba Hari ‘Eid.INI TIDAK DATANG DARI NABI SAW, ataupun dari para sahabat, ataupun dari As-Salaf As-Shaleh. Maka mereka berpuasa sehari dan berbuka sehari. Tidak ada berterusan di dalam puasa. Semua kebaikan adalah menurut Salaf dan keburukan adalah dari rekaan para Khalaf. Barangsiapa yg ingin ber-iitiba’ dan inginkan ganjaran, maka ia harus mengikut Nabi SAW di mana Baginda tidak berpuasa sepenuhnya di dalam Rejab, dan tidak berpuasa sepenuhnya di dalam Sya’ban. Dan ini adalah yg lebih utama. Wa Billahi Tawfiq.”

 

Beliau tegas mengatakan bahawasanya disunatkan berpuasa pada bulan-bulan Haram, tetapi tidaklah sepenuh bulan Rejab dan Sya’ban, kerana ini tidak dilakukan oleh Rasulullah SAW, atau sahabat-sahabatnya ataupun para ulama’ Salaf.

 

 

Puasa-puasa sunat yg lain

 

Syeikh Muhammad Mutawali Al-Sya’rawi di dalam fatwanya [13] dalam menjawab persoalan mengenai puasa-puasa sunat, beliau telah menyenaraikan 8 jenis puasa yg beliau sifat sebagai ‘puasa yg dilakukan oleh seorang Muslim bagi mendekatkan diri kepada Allah.
Puasa-puasa sunat:

 

1. Hari Arafah (9 Zulhijjah) kepada mereka yg tidak menunaikan Haji

2. Hari Asyura’, di situ ada hari ke-9, atau mana-mana hari 9 atau 10 Muharram

3. 6 hari dalam bulan Syawal

4. Hari-hari putih di dalam bulan-bulan Arab (Islam) iaitu: hari ke-13, 14 dan 15

5. Hari Isnin dan Khamis pada setiap minggu

6. Bulan-bulan haram iaitu: Zulqaedah, Zulhijjah, Muharram dan Rejab

7. 9 hari dalam bulan Zulhijjah, dari 1 hingga 9 Zulhijjah

8. Berpuasa penuh dalam bulan Sya’ban, atau berpuasa dengan banyaknya
Para Fuqaha’ berpendapat jika seseorang itu ingin melakukan puasa sunat tetapi dia masih mempunyai baki puasa wajib, hendaklah ia mengqadhakan puasa wajibnya. Bahkan jika ia mempunyai kifarah dan nazar, maka hendaklah dia melakukannya puasa itu dahulu. [14]

 

 

Kesimpulan

1. Kebanyakan hadith-hadith fadhilat bulan Rejab adalah Mawdhu’ (Palsu). Pendustaan terhadap Rasulullah SAW.   (Al-Saqr, Al Qaradhawi)

 

2. Kita dilarang memilih-milih hari atau malam yg tertentu sahaja untuk melakukan ibadah khusus.   (Hadith Nabi SAW)

 

3. Tiada fadhilat KHAS yg ditujukan pada bulan Rejab, yg ada cuma fadhilat umum kepada keempat-empat bulan haram.   (Al-Saqr, Al-Qaradhawi)

 

4. Tiada solat dan zikir khas untuk bulan Rejab.   (Al-Saqr, Al-Qaradhawi)

 

5. Bulan Rejab adalah seperti bulan-bulan Haram yg lain, digalakkan melakukan puasa sunat dan memperbanyakkan taubat.   (Imam As-Sya’rawi)

 

6. Kaedah berpuasa di dalam bulan-bulan haram ialah:

– hari yg ke 9, 10 dan 11 di dalam bulan Muharram.   (Syeikh Abdul Aziz bin Bazz)

– hari Khamis, Jumaat dan Sabtu.   (Mazhab Hanafi: Az-Zuhaily)

– pada bulan Rejab dan Sya’ban, tetapi tidak penuh sebulan.   (Al-Qaradhawi)

– berpuasa pada hari Asyura’ (10 Muharram) dan Hari Arafah (9 Zulhijjah).

 

7. Rejab tidak mempunyai kelebihan dari bulan-bulan yg lain, kecuali kelebihan sebagai bulan-bulan Haram.   (Sayyid Saabiq)

 

8. Tidak boleh HANYA berpuasa di bulan Rejab sahaja, manakala 3 bulan Haram yg lain tidak langsung diberi keutamaan untuk berpuasa.   (Mazhab Hanbali: Al-Jaziry)

 

9. Tiada dalil yg mengatakan bahawa menziarahi kubur dalam bulan Rejab mempunyai kelebihan.

 

10. AWASILAH dari terlibat menyebarkan hadith-hadith Mawdhu’ (Palsu), kerana ditakuti kita adalah sebahagian daripada mereka yg mendustakan Rasulullah SAW. Na’udzubillahi min dzaalik!

 

Dalam mempertingkatkan amalan-amalan kita kepada Allah SWT, seringkali kita disajikan dengan pelbagai amalan yg kelihatan seperti banyak fadhilatnya. Malah ada juga kedapatan beberapa fadhilat yg sangat rapuh dalilnya, bahkan ia menjadi pegangan sebahagian umat Islam pada hari ini. Bagi persoalan-persoalan seperti fadhilat Rejab atau bulan-bulan yg lain, kita mesti kembali kepada ‘role model’ atau contoh kita, iaitu Rasulullah SAW, sebagaimana firman Allah SWT di dalam surah Al-Ahzab ayat 21:

 

“Demi sesungguhnya, adalah bagi kamu pada diri Rasulullah itu contoh ikutan yang baik, iaitu bagi orang yang sentiasa mengharapkan (keredhaan) Allah dan (balasan baik) hari Akhirat, serta dia pula menyebut dan mengingati Allah sebanyak-banyaknya (pada waktu susah dan senang).”

 

Akhir kata, selamat menyambut kedatangan bulan-bulan Haram sebagaimana yg telah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

 

Allahu a’lam bissowab..

 

 

dr: Al-Ahkam Online – http://www.al-ahkam.net:2020/forum2/index.php

عَنْ أَبِي هُرَیْرَة رَضِىَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( إِنَّ الله تَعَالَى
طَيِّبٌ لاَ یَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَا وَإِنَّ الله أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ تَعَالَى: { یَآ أَیُّهَ ا
الرُّسُلُ آُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا } وَقَالَ تَعَالَى: { یَآ أَیُّهَا الَّذِیْنَ آمَنُوْا آُلُوا مِ نْ
طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاآُمْ } ثُمَّ ذَآَرَ الرَّجُلَ یُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ یَمُدُّ یَدَیْهِ إِلَى السَّمَآء: یَا رَبّ!
یَا رَبّ! وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِي بِالحَرَامِ، فَأَنَّى یُسْتَجَابُ لَهُ!
)) رواه مسلم.
یَآ أَیُّهَا الرُّسُلُ آُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحً ( Surah al-Mukminun: 51)
یَآ أَیُّهَا الَّذِیْنَ آمَنُوْا آُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاآُمْ ( Surah al-Baqarah: 172)

Daripada Abu Hurairah r.a beliau berkata: Rasulullah SAW telah bersabda:
Sesungguhnya Allah Ta’ala baik, Dia tidak menerima kecuali perkara yang baik. Dan sesungguhnya
Allah telah memerintahkan orang-orang mukmin dengan apa yang telah diperintahkan kepada para
Rasul di mana Allah Ta’ala berfirman: (Wahai para Rasul! Makan minumlah kamu makanan yang baikbaik
dan hendaklah kamu beramal soleh). Dan Allah Ta’ala berfirman: (Wahai orang-orang yang
beriman! Makan minumlah kamu makanan yang baik-baik yang Kami rezekikan kepada kamu).
Kemudian Baginda menyebut perihal seorang lelaki yang bermusafir jauh, yang berambut kusut masai
dan berdebu, yang menadah tangan ke langit (iaitu berdoa): Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku!
Bagaimanakah doanya akan dimakbulkan sedangkan makanannya haram, minumannya haram,
pakaiannya haram dan dia dikenyangkan dengan makanan yang haram?
Hadis riwayat al-lmam Muslim.
Kefahaman Hadis :
1) Suci Allah dari kekurangan / keaiban / tidak perlu rakan dan anak / tidak zalim dan tidak tidur.
2) Diterima atau tidak amalan
– bergantung kepada pemakanannya halal/haram.
– sebab kepada diterima atau tidaknya doa/ibadah.
3) Sebab- sebab diperkenankan doa serta beberapa adabnya:
perjalanan yang jauh – (hadis – tiga jenis doa yang diperkenankan , doa orang yg dizalimi, orang dlm
musafir dan doa bapa terhadap anaknya)
berpakaian lekeh (usang) – sebagaimana disunatkan dlm solat Istisqa’.
mengangkat tangan ke langit – hadis nabi berkenaan dengannya.
mengulang-ulang nama Allah – (3x) – sebagai tanda sangat berhajat.
penjagaan makanan, minuman dan pakaian .
Pengajaran hadis:
lslam menuntut umatnya menjaga diri dari semua aspek; kebersihan diri dan hati, keelokan berpakaian,
kebersihan amalan perbuatan juga budi pekerti. Sesungguhnya Allah SWT itu baik. Dia hanya
menerima perkara yang baik-baik sahaja.
Amalan, pakaian, tempat tinggal, kenderaan dan makanan seseorang mempunyai hubungan rapat
dengan darjat kemuliaan diri dan peningkatan maqam hatinya. Oleh itu, seorang mukmin dituntut
menjaga amalan, tingkah laku dan pakaian serta memakan hanya benda yang baik.
Makanan yang baik ialah makanan yang halal. lni tidak menafikan makanan yang berzat dan
bervitamin, kerana Allah sifatkan makanan yang baik, bukan sekadar yang halal.
Makanan dan perbuatan yang haram menghalang pembersihan jiwa seseorang, sekaligus menghalang
doa daripada dimakbulkan Allah.

عَنْ أَبِي هُرَیْرَةَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْرٍ رَضِىَ الله عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى ا للهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ یَقُوْلُ : (( مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَ ا
أَهْلَكَ الَّذِیْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ آَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ )) رواه البخاري ومسلم.

Daripada Abu Hurairah Abdul Rahman ibn Sokhrin r.a. beliau berkata: Aku telah mendengar
Rasulullah SAW bersabda:
Apa-apa yang aku larang kamu melakukannya, maka hendaklah kamu menjauhinya, dan apa-apa yang
aku perintahkan kamu melakukannya, maka lakukanlah seberapa daya kamu. Sesungguhnya umat yang
terdahulu daripada kamu telah binasa lantaran banyak persoalan dan banyak perselisihan mereka
terhadap Nabi-nabi mereka.
Hadis riwayat al-lmam al-Bukhari dan Muslim.
Kandungan Hadis :
1) Sebab Hadis – Khutbah Nabi (difardhu Haji ) – penyoal Aqro’ bin Haabis.
2) Jauhi Larangan :
i) sebab haram – dapat pahala/ buat dapat dosa.
ii) sebab makruh – dapat pahala / buat tak berdosa.
3) Buat apa yang disuruh :
i) wajib – dapat pahala/ tinggal dapat dosa.
ii) sunat – dapat pahala/ tinggal tak berdosa.
4) Larangan banyak bertanya :
perkara yang tidak dijelaskan oleh syara’.
pada perkara yang tidak mendatangkan faedah/ tidak dihajati.
pertanyaan berbentuk mempersendakan/ menghina.
masaalah yang tidak berlaku.
Pengajaran hadis:
Seorang mukmin mestilah menjauhkan sama sekali semua larangan Rasulullah SAW kerana apa yang
dilarang oleh Baginda pada hakikatnya adalah larangan Allah SWT yang wajib dipatuhi.
Seterusnya dia mestilah melaksanakan segala suruhan Baginda Rasulullah SAW sekadar yang
termampu, tanpa memaksa diri dan keterlaluan di luar kemampuan kerana ia akan menyebabkannya
tewas terkulai tidak berdaya melakukannya sebegitu teruk.
Perintah yang disuruh melakukan sekadar terdaya ialah perintah yang sunat. Perintah wajib atau fardhu
mestilah dilakukan tanpa kelonggaran kecuali kelonggaran yang diizinkan syara’ iaitu kerana uzur atau
sakit.
Sifat terlalu suka bertanya perkara yang bukan-bukan, berbahas, banyak soal jawab dan membantah
para Nabi dan Rasul adalah perangai umat yang terdahulu. Lantaran itu, mereka telah ditimpa
kesusahan dan keibnasaan. Umat Muhammad SAW diberi peringatan agar jangan mengulangi
kesilapan ini.

عَنْ أَبِي هُرَیْرَةَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْرٍ رَضِىَ الله عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى ا للهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ یَقُوْلُ : (( مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَ ا
أَهْلَكَ الَّذِیْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ آَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ )) رواه البخاري ومسلم

Dar lbnu ‘Umar r.a. رضي الله عنهما bahawa Rasulullah SAW telah bersabda:
Aku telah diperintahkan supaya memerangi manusia sehingga mereka menjadi saksi bahwa sesungguhnya
tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawa sesungguhnya Muhammad utusan Allah, sehingga mereka
mendirikan sembahyang dan membayar zakat. Apabila mereka telah berbuat demikian, maka mereka
telah memelihara darah mereka dan harta mereka daripada aku, melainkan dengan hak lslam, dan hisab
perhitungan amal mereka terserah kepada Allah Ta’ala.
Hadis riwayat al-lmam al-Bukhari dan Muslim.
Pokok Perbincangan Hadis :
1) Wajibnya perang – difardhukan – tolak tipu daya musuh – naikkan bendera Islam.
2) Terpelihara darah dan harta :
Pokok Perbincangan
i) orang yang mengucap dua kalimah syahadah.
ii) orang yang mendirikan solat fardhu.
iii) orang yang membayar zakat.
iv) orang yang beriltizam dengan hak-hak Islam.
3) Perjalanan Hukum – hanya pada zahir – batin serah pada Allah.
Pengajaran hadis:
Risalah atau misi kedatangan Rasulullah SAW halangan terhadap usaha dakwah mesti dihapuskan.
ialah menegakkan dakwah lslam sehingga tertegak aqidah lslam. Sebarang
Memerangi orang-orang kafir yang memerangi lslam dan dakwah lslam adalah kewajipan umat, agar
risalah lslam tidak terhalang dari sampai kepada semua manusia. Apabila dakwah sudah sampai,
mereka bebas sama ada menerima lslam atau sebaliknya.
lslam menjamin hak pemeliharaan dan perlindungan darah, harta dan maruah diri seorang mukmin
muslim yang mengucap dua kalimah syahadah, mendirikan sembahyang lima waktu dan membayar
zakat. Hak ini terus terjamin kecuali kalau dia mengabaikan hak-hak tuntutan lslam.