MEMPRIORITASKAN KUALITAS ATAS KUANTITAS

Posted: 1 Juni 2012 in Materi
Tag:,

DI ANTARA hal-hal terpenting yang perlu diprioritaskan menurut pandangan  syariat  ialah:  Mendahulukan  kualitas  dan  jenis urusan  atas  kuantitas  dan  volume  pekerjaan.  Yang   perlu mendapat perhatian kita bukanlah banyak dan besarnya persoalan yang dihadapi, tetapi kualitas dan jenis pekerjaan  yang  kita hadapi.

Al-Qur’an  sangat  mencela terhadap golongan mayoritas apabila di dalamnya hanya diisi oleh orang-orang yang  tidak  berakal, tidak  berilmu, tidak beriman dan tidak bersyukur; sebagaimana disebutkan dalam berbagai tempat di dalamnya:

“… akan tetapi kebanyakan mereka tidak memahamirya.” (al-Ankabut: 63)
“… akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (al-A’raf:187)
“… akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” (Hud:17)
“… akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (al-Baqarah: 243)
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah…” (al-An’am: 116)

Pada masa yang  sama,  al-Qur’an  memberikan  pujian  terhadap kelompok  minoritas apabila mereka beriman, bekerja keras, dan bersyukur; sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya:

“… kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; dan amat sedikitlah mereka ini…” (Shad: 24)
“… dan sedikit sekali hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (Saba’:13)
“Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi…” (al-Anfal: 26)
“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka…” (Hud: 116)

Oleh karena itu, tidaklah penting jumlah manusia yang  banyak, akan  tetapi  yang paling penting ialah banyaknya jumlah orang Mu’min yang shaleh.

Hadits Nabi pernah menyebut jumlah manusia yang banyak:

“Menikahlah kamu, kemudian berketurunanlah, agar jumlah kamu menjadi banyak, karena sesungguhnya akubangga dengan jumlahmu yang banyak atas umat-umat yang lain.”1

Akan tetapi,  Rasulullah  saw  tidak  membanggakan  kebodohan, kefasikan,  kemiskinan  dan  kezaliman  umatnya atas umat-umat yang lain. Namun beliau membanggakan  orang-orang  yang  baik, bekerja keras, dan memberikan manfaatnya kepada orang lain.

Rasulullah saw pernah bersabda,

“Manusia itu bagaikan unta, di antara seratus ekor untaitu engkau belum tentu menemukan seekor yang boleh dijadikan sebagai tunggangan.”2

Perbedaan yang terjadi di antara umat manusia  sendiri  adalah paling  banyak dibandingkan dengan perbedaan yang terjadi pada semua jenis binatang dan lainnya. Dalam sebuah  hadits  pernah dikatakan,

“Tidak ada sesuatu yang lebih baik daripada seribu yang semisalnya kecuali manusia.”3

Kita senang sekali dengan kuantitas  dan  jumlah  yang  banyak dalam  segala  sesuatu, dan suka menonjolkan angka beribu-ribu dan berjuta-juta; tetapi kita tidak banyak  memperhatikan  apa yang  ada  di  balik  jumlah  yang  banyak  itu,  dan apa yang terkandung di dalam angka-angka tersebut.

Salah  seorang  penyair  pada  zaman  Arab   Jahiliyah   telah mengetahui  pentingnya kualitas dibandingkan dengan kuantitas, ketika dia mengatakan,

“Ia mencela kami karena jumlah kami sedikit.

Maka kukatakan kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang yang mulia itu sedikit.”

“Apalah ruginya kami sedikit, kalau dengan jumlah yang sedikit itu kami mulia.

Sedangkan orang-orang yang jumlahnya banyak itu terhina.”

Al-Qur’anpun menyebutkan kepada kita bagaimana tentara Thalut, yang  jumlahnya  sedikit dapat mengalahkan tentara Jalut, yang jumlahnya banyak:

“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya kecuali menciduk seciduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberang sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, merekapun berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. ” Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah…” (al-Baqarah: 249-251)

Al-Qur’an menyebutkan kepada kita bagaimana Rasulullah saw dan para sahabatnya dapat memperoleh kemenangan pada Perang Badar, padahal  jumlah  mereka  sangat  sedikit  dibandingkan  dengan jumlah  musuh  mereka,  kaum  musyrik  yang  jumlahnya  sangat banyak.

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (Ali ,Imran: 123)

“Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Makkah), kamu takut orang-orang Makkah akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikanrrya kamu kuat dengan pertolongan-Nya…” (al-Anfal: 26)

Pada saat yang  lain,  kaum  Muslimin  juga  hampir  menderita kekalahan  pada  Perang  Hunain,  karena mereka melihat kepada kuantitas dan bukan  kualitas,  sehingga  mereka  membanggakan diri dengan kuantitas, dan meremehkan kekuatan ruhaniah, serta kemahiran berperang.  Kemudian  pada  awal  peperangan  mereka terkepung, sehingga mereka baru mengetahui dan menyadari, lalu bertobat; dan  akhirnya  Allah  memberikan  kemenangan  kepada mereka,  dengan memberikan bantuan kekuatan tentara yang tidak mereka lihat.

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para Mu’tmin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (at-Taubah: 25-26)

Telah dijelaskan di dalam al-Qur’an bahwa apabila keimanan dan kemauan   kuat  atau  kesabaran  telah  berkumpul  dalam  diri manusia, maka kekuatannya  akan  menjadi  sepuluh  kali  lipat jumlah   musuh-musuhnya,  yang  tidak  memiliki  keimanan  dan kemauan. Allah SWT berfirman:

“Hai nabi, kobarkanlah semangat para Mu’min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum Muslimin yang tidak mengerti.” (al-Anfal: 65)

Yang demikian ini ialah ketika keadaan mereka kuat.  Sedangkan ketika  mereka  dalam  keadaan  lemah, maka kekuatan itu hanya menjadi   dua   kali   lipat   kekuatan   musuh,   sebagaimana diisyaratkan dalam ayat ini:

“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua rarus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan izin Allah…” (al-Anfal: 66)

Oleh karena  itu,  yang  paling  penting  ialah  keimanan  dan kemauan, dan bukan jumlah yang banyak.

Barangsiapa  mau  membaca  sirah  Rasulullah saw maka dia akan mengetahui bahwa sesungguhnya perhatian beliau tertumpu kepada kualitas  dan  bukan  kuantitas.  Dan  orang yang mau menyimak sirah para sahabat dan para khalifah rasyidin  akan  mendapati hal yang sama dengan jelas sekali.

Umar bin Khatab pernah mengutus Amr bin ‘Ash untuk menaklukkan Mesir, dengan membawa empat ribu orang tentara saja.  Kemudian dia  meminta  tambahan personil tentara lagi, dan Umar memberi empat  ribu  orang   tentara   lagi,   berikut   empat   orang komandannya. Umar berkata, “setiap orang komandan tambahan ini membawahkan seribu  orang  tentera;  dan  aku  menilai  jumlah mereka semuanya adalah dua belas ribu orang tentara. Dua belas ribu  (tentara)  tak  akan  dikalahkan  karena   jumlah   yang sedikit.”

Umar  sangat percaya bahwa yang paling penting ialah kualitas, kemampuan, dan kemauan  mereka  dan  bukan  jumlah  dan  besar mereka.

Diriwayatkan  dari  Rasulullah  saw bahwasanya pada suatu hari beliau duduk  bersama  sebagian  sahabatnya  di  sebuah  rumah temannya, kemudian beliau berkata kepada mereka, “Tunjukkanlah cita-cita kamu.” Maka salah seorang di antara mereka  berkata, “Aku  bercita-cita  ingin  mempunyai  dirham  dari  perak yang memenuhi rumah ini  sehingga  aku  dapat  menafkahkannya  pada Jalan  Allah.”  Orang  yang  lain  bercita-cita  memiliki emas sepenuh rumah tersebut  dan  menafkahkannya  di  jalan  Allah. Sementara Umar berkata, “Aku, ingin memiliki orang seperti Abu Ubaidah  al-Jarrah,  Mu’adz  bin  Jabal,   Salim   Maula   Abu Hudzaifah,  sepenuh  rumah ini agar aku dapat mempergunakannya untak berjuang di jalan Allah.”

Pada zaman kita sekarang ini,  jumlah  kaum  Muslimin  sedunia telah melebihi satu seperempat milyar jiwa. Akan tetapi sayang sekali jumlah  sebesar  itu  kebanyakan  memiliki  sifat  yang pernah  diutarakan  oleh  sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dari Tsauban,

“Pada suatu hari kelak, umar-umat akan memusuhi kalian dari segala penjuru, seperti orang-orang lapar yang  memperebutkan makanan.” Para sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kami yang sedikit pada masa itu wahai Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “Bahkan, jumlah kalian pada waktu itu banyak, akan tetapi kalian hanya bagaikan buih yang terbawa arus air; dan sungguh Allah akan mencabut rasa takut dari dada para musuh kalian; dan sungguh Allah akan menghujamkan wahn di dada kalian. ” Para sahabat bertanya kembali, “Apakah wahn itu wahai Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (lihat al-Jami’ as-Shaghir: 8183).

Hadits ini menjelaskan bahwa jumlah  yang  banyak  saja  belum cukup,  apabila  jumlah  ini  hanya kelihatan megah dari luar,tetapi lemah dari dalam; sebagaimana periode ketika umat hanya bagaikan  buih  yang  terseret arus air; di mana pada masa ini umat  bagaikan  buih,  tidak  memiliki  identitas,  kehilangan tujuan dan jalan yang benar; dan benar-benar seperti buih yang terbawa arus air.

Oleh karena itu, perhatian  kita  hendaknya  ditujukan  kepada kualitas  dan  jenis,  bukan  kepada  sekadar  kuantitas. Yang dimaksudkan dengan kuantitas di sini ialah jumlah sesuatu yang dilihat   secara  material,  besarnya  angka,  luasnya  jarak, besarnya isi, beratnya timbangan, panjangnya waktu,  dan  lain sebagainya yang serupa dengan itu.

Apa  yang  kami  katakan  tentang  besarnya  angka  itu  dapat dicontohkan dalam hal yang lain.

Manusia, misalnya, tidak diukur dari tinggi tubuhnya, kekuatan ototnya,  besar  tubuhnya,  dan kecantikan wajahnya. Semua ini adalah  hal-hal  yang  berada  di  luar   inti   dan   hakikat kemanusiaan.   Tubuh  manusia  –pada  akhirnya–  tidak  lain hanyalah bungkus dan instrumennya, sedangkan hakikatnya  ialah akal dan hatinya.

Allah   SWT  pernah  memberikan  penjelasan  berkenaan  dengan sifat-sifat orang munafik sebagai berikut:

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum…” (al-Munafiqun: 4)

Dia juga pernah  memberikan  sifat  kaum  ‘Ad,  melalui  lidah nabi-Nya, Hud a.s.:

“… dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu…” (al-A’raf: 69)

Akan  tetapi  sesungguhnya  kelebihan   kekuatan   tubuh   itu menjadikan mereka terkecoh dan menyombongkan diri, sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT:

“Adapun kaum Ad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata, “Siapakah yang lebih besar kekuatannya daripada kami?…” (Fushshilat: 15)

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:

“Sungguh akan datang pada hari Kiamat seorang laki-laki besar dan gemuk, maka di sisi Allah ia tidak akan seberat timbangan sayap nyamuk. Allah berfirman: ‘… dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.'” (al-Kahfi: 105)4

Pada  suatu  hari  Ibn  Mas’ud  memanjat  sebuah  pohon,  maka tampaklah  kedua betisnya yang lembek dan kurus, maka sebagian sahabat tertawa karena  melihatnya.  Kemudian  Rasulullah  saw yang mulia bersabda, “Apakah kamu tertawa karena melihat kedua betisnya yang  lembek?  Sesungguhnya,  kedua  betis  itu  jika ditimbang kelak (beratnya) lebih beret daripada bukit Uhud.”5

Oleh  karena  itu tidaklah begitu penting tubuh yang besar den kuat, kalau tidak disertai dengan akal pikiran yang cerdas den hati  yang  jernih.  Dahulu  penyair  Arab mengatakan, “Engkau lihat para pemuda bagaikan kurma dan  engkau  tidak  tahu  apa isinya.”

Hasan  bin  Tsabit  pernah mengejek suatu kaum Muslimin dengan mengatakan,

“Tidak mengapalah suatu kaum itu memiliki tubuh yang jangkung atau pendek, berbadan keledai tetapi berhati burung.”

Hal ini bukan  berarti  bahwa  Islam  tidak  menetapkan  suatu penilaian  terhadap  kekuatan  den kesehatan tubuh manusia. Ia sangat peduli dengan kedua hal ini. Bahkan, Allah  SWT  memuji Thalut dengan firman-Nya:

“… dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa..” (al-Baqarah: 247)

Dalam hadits yang shahih disebutkan:

“Sesungguhnya badanmu memiliki hak atas dirimu.”6

“Orang Mu’min yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang Mu,min yang lemah.” 7

Akan tetapi, pernyataan-pernyataan ini tidak dijadikan sebagai ukuran keutamaan.

Tubuh   yang  perkasa  dan  kuat  bukanlah  ukuran  kelelakian seseorang, dan  bukan  ukuran  keutamaan  pada  diri  manusia. Begitu pula kecantikan paras wajah dan bentuk tubuhnya.

Dalam hadits disebutkan:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kamu, dan bentuk luar kamu, akan tetapi Dia melihat kepada hati-hati kamu.”8

Salah seorang penyair pernah menyampaikan pujiannya kepada Abd al-Malik bin Marwan dengan mengatakan,

“Bila mahkota telah bertengger di atas kepalanya, seakan-akan wajahnya adalah wajah emas.”

Kemudian Abd al-Malik mencemoohkan sang  penyair,  karena  dia memujinya  dengan  pujian  yang  menyerupai  seorang perempuan cantik,  seraya  berkata  kepadanya:  “Mengapa  engkau   tidak memujiku seperti penyair yang memuji Mush’ab bin Zubair?”

“Sesungguhnya Mush’ab adalah meteor dari Allah, yang cahayanya menerangi kegelapan. Putusan yang dia tetapkan sangat kuat, tetapi tanpa mengandung kesewenang-wenangan.”

Memang… lelaki itu dinilai dari ilmu pengetahuan yang ada di otaknya,  dan keimanan yang bersemayam di dalam hatinya; serta amalan sebagai buah imannya. Dan sesungguhnya  amal  perbuatan di  dalam  Islam ini tidaklah diukur dari besar dan jumlahnya, tetapi ia diukur dari sejauh mana  kebaikan  dan  kualitasnya. Melakukan  perbuatan  yang baik bukanlah sunat di dalam Islam, tetapi merupakan sebuah fardhu yang diwajibkan oleh Allah atas orang-orang   yang  beriman,  sebagaimana  fardhu-fardhu  yang diwajibkan atas mereka, seperti puasa dan  fardhu-fardhu  yang lainnya.

Rasulullah saw bersabda,

“Sesungguhnya Allah menulis (mewajibkan) perbuatan yang baik atas segala sesuatu. Jika kamu mau membunuh binatang, maka bunuhlah dengan baik, dan apabila kamu hendak menyembelihnya, maka sembelihlah dengan menyembelih yang baik. Dan hendaklah salah seorang di antara kamu menajamkan pisaunya, dan mengistirahatkan binatang yang disembelihnya.”9

Asal mula arti  menulis  (kataba)  di  dalam  hadits  tersebut menunjukkan adanya kewajiban atau fardhu.

Selain itu, Rasulullah saw juga bersabda,

“Sesungguhnya Allah mencinlai orang yang apabila melakukan sesuatu dia melakukannya dengan sebaik-baiknya.”10

Dia mencintai perbuatan itu  dan  juga  mencintai  orang  yang melakukannya.

Bahkan,  sesungguhnya  al-Qur’an tidak menganggap cukup dengan pelaksanaan  yang  baik,  tetapi  menganjurkan  mereka   untuk melakukan yang terbaik. Allah SWT berfirman:

“Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu…” (az-Zumar: 55)

“… Sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku. Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya…” (az-Zumar: 17-18)

Bahkan,   al-Qur’an   menganjurkan   kita   untuk    membantah orang-orang yang menentang kita dengan cara yang paling baik.

” … dan bantahlah mereka dengan cara yang paling baik…” (an-Nahl: 125)

Serta menyuruh kita untuk menolak kejahatan  itu  dengan  cara yang baik daripada kejahatan tersebut.

“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah
kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka
tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada
permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat
setia”. (Fushshilat: 34)

Dan al-Qur’an melarang kita  untuk  mendekati  harta  kekayaan anak yatim kecuali dengan cara yang paling baik.

“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat…” (al-An’am: 152)

Selain itu, al-Qur’an menjadikan penciptaan bumi  dan  isinya, penciptaan  mati  dan  hidup, penciptaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya sebagai ujian bagi orang-orang yang  dibebani  kewajiban. Semua itu untuk mengetahui siapakah di antara mereka yang terbaik amalannya.

“… siapakah di antara mereka yang terbaik amalannya.” (al-Kahfi: 7)

Sebagaimana yang dijelaskan di  dalam  Kitab  Allah  (Hud:  7; al-Mulk: 2; dan al-Kahfi: 7) bahwa persaingan di antara mereka bukanlah  pada  perbuatan  baik  dan  buruk,   tetapi   antara perbuatan  yang  baik  dan  yang  paling baik. Perhatian orang Mu’min hendaknya senantiasa tertumpu kepada yang  paling  baik dan tertinggi nilainya. Dalam sebuah hadits disebutkan:

“Apabila kamu meminta surga kepada Allah, maka mintalah surga Firdaus, karena ia surga yang terletak paling tengah dan paling tinggi, dan di atasnya adalah singgasana Tuhan.”11

Dalam hadits yang masyhur berkaitan dengan  Jibril  a.s.  yang bertanya   kepada  Rasulullah  saw  tentang  al-ihsan,  beliau menjawab:

“Ihsan itu ialah hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan kalau kamu tidak melihatnya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”12

Begitulah penafsiran al-ihsan dalam ibadah. Yakni  kita  mesti senantiasa  menjaganya,  dan mengikhlaskannya untuk Allah SWT. Amalan-amalan yang diterima di sisi Allah tidak  akan  dilihat bentuk  dan  kuantitasnya,  tetapi yang dilihat ialah inti dan kualitasnya. Betapa banyak amal  yang  dari  segi  lahiriahnya memenuhi syarat, tetapi amal itu kehilangan ruh yang meniupkan kehidupan ke dalamnya. Dan oleh karena itu amal tersebut tidak dianggap   oleh   agama  sebagai  amal  kebajikan,  dan  tidak diletakkan di  dalam  ‘tangan’  timbangan  amal  kebajikan  di akhirat kelak.

Allah SWT berfirman:

Maka celakalah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat riya’ (al-Ma’un: 46)

Berkenaan dengan puasa, Rasulullah saw pernah bersabda,

“Barangsiapa yang tidak mau meninggalkan perkataan bohong, dan mengerjakan kebohongan, maka Allah tidak perlu darinya meninggalkan makan dan minumnya.”13

“Bisa jadi orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala puasanya kecuali lapar, dan kebanyakan orang yang melakukan qiyam lail tidak mendapatkan pahalanya kecuali hanya keterjagaan di malam hari.”14

Allah SWT berfirman:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, …” (al-Bayyinah: 5)

Rasulullah saw yang mulia bersabda,

“Sesungguhnya amalan harus disertai dengan niat, dan setiap orang itu akan tergantung kepada niatnya. Maka barangsiapa berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan mendapatkan Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa berhijrah untuk memperoleh dunia, atau berhijrah untak memperoleh wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya adalah untuk apa yang ia niatkan.”15

Oleh karena itu, para ulama Islam sangat memberikan  perhatian kepada   hadits   tersebut.  Bukhari  juga  membuka  kitabnya, al-Jami’  as-Shahih,  dengan  hadits   ini.   Sebagian   ulama menganggap bahwa niat adalah seperempat amalan Islam; sebagian yang lain menilainya sepertiga; karena niat itu begitu penting dalam  hal yang berkaitan dengan diterimanya amalan seseorang. Mereka  menganggapnya  sebagai  timbangan   bagi   inti   amal perbuatan   tersebut;   sebagaimana  disebutkan  dalam  sebuah hadits:

“Barangsiapa melakukan suatu amalan, yang tidak ada landasan dari kami, maka amalan itu tidak diterima.”16

Abu Ali al-Fudhail bin  Iyadh  pernah  ditanya  tentang  makna “amalan yang paling baik” pada firman Allah: ” … siapakah di antara kamu yang paling baik  amalannya…  ”  (Hud:  7),  dia menjawab,  “Amalan yang paling ikhlash dan paling baik.” Orang itu bertanya lagi:  “Apakah  amalan  yang  paling  ikhlas  dan paling baik ini?” Dia menjawab, “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amal perbuatan selama ia tidak murni dan  baik. Jika  amal  perbuatan  itu baik, tetapi tidak murni untuk-Nya, maka ia tidak diterima.  Sebaliknya,  jika  amalan  itu  murni tetapi tidak baik, maka ia juga tidak diterima. Kemurnian amal itu  hendaknya  hanya  semata-mata  untuk   Allah;   sedangkan kebaikannya  ialah  bahwa amal itu hendaknya sesuai dengan apa yang digariskan oleh sunnah Nabi saw.”

Itulah makna “perbuatan yang paling baik” dalam  urusan  agama dan   ibadah.   Adapun   kebaikan  dalam  urusan  dunia  ialah tercapainya  tingkat  kebaikan  yang  dapat  mengalahkan  yang lainnya, sehingga ia menjadi yang paling unggul. Dan perbuatan seperti ini tidak dapat  dilakukan  kecuali  oleh  orang-orang yang betul-betul serius.

Di  antara  hadits  Nabi saw yang menunjukkan kepada persoalan ini ialah sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan  oleh  Muslim dari Abu Hurairah r.a.

“Barangsiapa yang membunuh kutu pada pijatan pertama, maka akan dituliskan baginya seratus kebaikan. Sedangkan pijatan kedua di bawah tingkatan itu, dan pijatan ketiga di bawahnya lagi.”17

Hadits ini mengarahkan kepada kita mengenai betapa  pentingnya melaksanakan   suatu   pekerjaan  dengan  baik  dan  sempurna, walaupun hanya membunuh seekor kutu. Karena hal ini sebetulnya termasuk   membunuh  dengan  cara  yang  baik,  “Apabila  kamu menyembelih binatang, maka lakukanlah dengan  baik.”  Membunuh dengan cara yang cepat membuat binatang yang dibunuh itu tidak merasakan sakit.

Kalau amal perbuatan tidak dapat diukur dengan  kuantitas  dan besarnya,  maka  umur  manusia  tidak dapat diukur dengan lama waktunya.

Ada orang yang berumur panjang, tetapi umurnya  tidak  membawa berkah;  dan  ada pula orang yang tidak berumur panjang tetapi orang itu sarat dengan pelbagai kebajikan dan  perbuatan  yang terbaik.

Sehubungan  dengan  hal  ini,  Ibn  ‘Atha’illah  berkata dalam hikmahnya: “Banyak sekali umur panjang yang  diberikan  kepada manusia,  tetapi  sumbangan  yang diberikannya sangat sedikit. Dan banyak sekali umur pendek yang diberikan  kepada  manusia, tetapi  sumbangan yang diberikannya sangat banyak. Barangsiapa yang umurnya diberi berkah oleh Allah SWT maka dalam masa yang pendek  dia  akan  mendapatkan berbagai karunia dari-Nya, yang sangat sulit untuk diungkapkan.”

Cukuplah bagi kita sebuah contoh. Yaitu Nabi saw  yang  mulia, dalam  masa  dua  puluh tiga tahun –yaitu masa setelah beliau diangkat menjadi nabi– beliau diberi berkah oleh  Allah  SWT. Dalam  masa  ini  beliau berhasil mendirikan agama yang paling mulia, mendidik generasi yang paling  baik,  menciptakan  umat yang  terbaik,  mendirikan  negara  yang  paling  adil, menang terhadap penyembahan berhala orang-orang kafir, Yahudi,  serta memberikan   warisan  abadi  kepada  umatnya  –setelah  kitab Allah– sunnah yang menjadi petunjuk, dan sirah yang sempurna.

Begitu pula halnya dengan Abu Bakar r.a. Dalam masa dua  tahun setengah,  dia  berhasil  mengalahkan orang-orang yang mengaku dirinya sebagai  nabi-nabi  palsu,  mengembalikan  orang-orang murtad   ke   pangkuan   Islam,   mengirimkan   tentara  untuk menaklukkan  Persia  dan  Romawi,  mendidik  orang-orang  yang enggan  membayar  zakat,  menjaga  hak-hak fakir miskin dengan mengambilkan hak  mereka  pada  harta  orang-orang  kaya,  dan merekamkan    dalam    sejarah    kedaulatan    Islam    bahwa pemerintahannya  adalah   pemerintahan   yang   pertama   kali berperang untuk membela hak-hak fakir miskin.

Umar  bin  Khatab  dalam masa sepuluh tahun berhasil melakukan pelbagai penaklukan wilayah di luar,  dan  memantapkan  kaidah pemerintahan yang adil berdasarkan musyawarah secara internal. Dia  telah  menciptakan  berbagai  tradisi  yang   baik   bagi orang-orang  sesudahnya  yang dikenal dengan “prioritas Umar.” Dia  telah  berhasil  memancangkan  tiang-tiang  fiqh  sosial, khususnya  fiqh  kenegaraan,  yang  disandarkan kepada tujuan, pertimbangan   antara   pelbagai   kemaslahatan,    melindungi generasi, serta memberanikan orang untuk memberikan usu1an dan kritik kepada hakim. Dia berkata,  “Tidak  ada  kebaikan  pada dirimu  selama  kamu  tidak  mau  mengatakannya, dan tidak ada kebaikan bagi kami selama kami tidak mendengarkannya.”  Selain itu,  Umar  juga  sangat menjauhi dunia, memiliki kemauan yang kuat untuk  menjalankan  kebenaran,  mewujudkan  keadilan  dan persamaan  hak  di  antara  manusia,  bahkan  bila  dia  harus melakukan qisas terhadap para gubernur dan anak-anaknya.

Umar bin Abd al-Aziz menjadi khalifah selama tiga puluh bulan. Melalui tangannya, Allah SWT menghidupkan tradisi keadilan dan kecemerlangan, mematikan kezaliman dan kesesatan. Dia  menolak berbagai  bentuk kezaliman dan memberikan hak-hak kepada orang yang berhak memperolehnya. Dia  telah  berhasil  mengembalikan kepercayaan  orang  kepada  Islam, sehingga semua orang merasa lega, tenang dan tidak merasa  ketakutan.  Dia  memberi  makan orang-orang  yang  lapar, menyebarluaskan kemakmuran, sehingga orang-orang  yang  berharta  berkata,  “Di  mana  kami   harusmeletakkan  zakat,  ketika semua manusia telah diberi kekayaan oleh Allah SWT.”

Imam  Syafi’i,  yang  hidup  selama  lima  puluh  empat  tahun –menurut  perhitungan  tahun  qamariyah– (150-204 H.) tetapi dia mampu memberikan berbagai sumbangan ilmiah yang orisinal.

Imam al-Ghazali, yang  hidup  selama  lima  puluh  lima  tahun (450-505 H.) meninggalkan kekayaan ilmiah yang bermacam-macam.

Imam  al-Nawawi,  yang  hidup  selama  empatpuluh  lima  tahun (631-676 H.) meninggalkan warisan yang sangat bermanfaat  bagi kaum  Muslimin  secara  menyeluruh;  baik berupa hadits, fiqh; yaitu dari hadits empat  puluhnya  hingga  penjelasannya  atas hadits   Muslim;   dari   metodologi   fiqh   hingga   Rawdhah al-Thalibin; dan lain-lain.

Begitu pula halnya dengan para ulama yang lain;  seperti:  Ibn Arabi,  al-Sarakhsi, Ibn al-Jawzi, Ibn Qudamah, al-Qarafi, Ibn Taimiyah, Ibn al-Qayyim, al-Syathibi, Ibn Khaldun, Ibn  Hajar, Ibn  al-Wazir,  Ibn  al-Hammam,  al-Suyuthi,  al-Syaukani, dan lain-lain  yang   memenuhi   dunia   ini   dengan   ilmu   dan keutamaannya.

Oleh  karena  itu,  ada orang yang meninggal dunia sebelum dia mati. Umurnya telah habis padahal dia masih hidup. Tetapi  ada orang  yang  dianggap masih hidup setelah dia meninggal dunia. Karena dia  meninggalkan  amal-amal  yang  shaleh,  ilmu  yang bermanfaat,  keturunan  yang  baik,  murid-murid yang dianggap dapat memperpanjang umurnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s